Pedagang dan Pengelola Pasar Tagog Padalarang Sempat Ricuh, Ternyata Ini Penyebabnya

Sempat ricuh, sejumlah kios para pedagang Pasar Tagog Padalarang disegel PT Bina Bangun Persada sebagai pihak ketiga pengelola pasar.

Pedagang dan Pengelola Pasar Tagog Padalarang Sempat Ricuh, Ternyata Ini Penyebabnya
Pengelola dan pedagang Pasar Tagog Padalarang sempat ricuh akibat adanya pelanggaran aturan yang disepakati sebelumnya.

INILAHKORAN, Ngamprah - Sempat ricuh, sejumlah kios para pedagang Pasar Tagog Padalarang disegel PT Bina Bangun Persada sebagai pihak ketiga pengelola pasar.

Hal tersebut dilakukan lantaran pihak pengelola pasar menilai para pedagang Pasar Tagog Padalarang telah menyalahi aturan yang telah disepakati yang memicu ricuh.

Upaya tersebut sontak memicu keributan dan ricug antara pedagang dan petugas Pasar Tagog Padalarang. Bahkan, sempat terjadi adu fisik antarkedua belah pihak.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Dapat Tambahan Jaringan Gas Bumi 21.508 Sambungan PGN

Salah seorang pedagang sayuran di Pasar Tagog Padalarang, Ratna (45) mengatakan, penyegelan itu dilakukan lantaran kios kedapatan menjual komoditi yang menyalahi aturan PT Bangun Bina Persada.

Menurutnya, dalam kesepakatan awal dengan pihak PT Bina Bangun Persada lantai dasar hanya boleh diisi oleh komoditi basah seperti sayuran, ikan dan daging.

“Komoditi seperti minyak goreng, tepung dan roko tidak boleh dijual disini, harus dijual di lantai satu,” katanya kepada wartawan.

Baca Juga: Para Pedagang Basement Blok 1 Pasar Sehat Soreang Pertanyakan Inkonsistensi Aturan Pengelola

Ia menyebut, sepinya pembeli yang berdampak pada penghasilan, sehingga tak sedikit para pedagang di lantai satu menunggak bayar retribusi perhari sebesar Rp 4.000.

“Informasi yang saya tahu itu pedagang di lantai satu ada beberapa yang nunggak retribusi, makanya mereka menjualnya di bawah,” sebutnya.

Ia mengaku miris dengan langkah yang diambil oleh pengelola Pasar Tradisional Tagog Padalarang.

Baca Juga: Dilema Petani di Kabupaten Bandung: Pupuk Sulit dan Mahal, Tenaga Kerja pun Semakin Langka

“Mereka mau mencari nafkah dimana untuk keluarganya. Ditambah pasar selalu sepi pembeli juga,” ujarnya.

Ia mengaku, sejak dibuka pada April 2022 lalu, penghasilan para pedagang di Pasar Tagog Padalarang menurun. Bahkan, kurang berdampak bagi mereka.

"Sudah tiga bulan lebih sejak dibuka, tidak ada peningkatan pengunjung. Pertama saja ramai pembeli, karena momennya menjelang puasa kan waktu itu. Tapi setelahnya, sepi sampai sekarang,” bebernya.

Baca Juga: Spoiler Alchemy of Souls Episode 9 : Berpisah dengan Mu Deok Yi, Jang Wook Rela Langgar Aturan Songrim

Menurutnya, aktivitas pedagang yang berjualan di luar pasar Tagog Padalarang menjadi penyebab sepinya pengunjung. Hal itu berdampak pada pendapatan para pedagang.

“Berkurang pendapatan pedagang, keinginan saya itu pemerintah dan pengelola bisa mencarikan solusi,” pungkasnya. (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran