DPRD Jabar: Evaluasi Total Layanan Kesehatan Ibu Hamil

Kasus meninggalnya bayi dalam kandungan yang dialami Rosita (39), warga Desa Darmaraja Sumedang memicu desakan evaluasi sistem layanan kesehatan ibu hamil.

DPRD Jabar: Evaluasi Total Layanan Kesehatan Ibu Hamil
Anggota Komisi V DPRD Jabar Zaini Shofari menegaskan, layanan kesehatan ibu hamil merupakan program prioritas yang tidak bisa dipandang sebelah mata karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi. (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Kasus meninggalnya bayi dalam kandungan yang dialami Rosita (39), warga Desa Darmaraja Sumedang memicu desakan evaluasi terhadap sistem layanan kesehatan ibu hamil di daerah. 

Peristiwa tersebut dinilai tidak cukup dipahami sebagai kejadian medis semata, melainkan harus menjadi bahan introspeksi terhadap kesiapan layanan kesehatan maternal.

Anggota Komisi V DPRD Jabar Zaini Shofari menegaskan, layanan kesehatan ibu hamil merupakan program prioritas yang tidak bisa dipandang sebelah mata karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi.

“Ini tentu harus menjadi perhatian seksama, karena kesehatan itu bagian dari program Nasional, termasuk Provinsi, terlebih Sumedang sebagai penyangga ibu kota Provinsi Jawa Barat, jadi harus ada perhatian khusus terutama menyangkut ibu hamil,” ujar Zaini baru-baru ini.

Menurutnya, Sumedang selama ini dikenal memiliki capaian cukup baik dalam menekan angka kematian bayi dan prevalensi stunting. Sebab itu, munculnya kasus kematian bayi dalam kandungan justru menjadi ironi yang perlu dijadikan evaluasi bersama.

“Sumedang itu sebenarnya hebat. Kalau bicara angka kematian bayi bisa ditekan, stunting juga bisa ditekan. Tapi kasus ini justru lahir di Sumedang,” ucapnya.

Dia menilai, langkah pencegahan harus diperkuat, supaya insiden serupa tidak berulang. Salah satu aspek yang disoroti, yakni lemahnya edukasi kesehatan kepada masyarakat mengenai kehamilan berisiko, prosedur pelayanan, hingga pentingnya pemeriksaan berkala.

Zaini berpandangan, pemahaman masyarakat terhadap layanan kesehatan kerap berbeda karena dipengaruhi faktor pendidikan, kondisi sosial, dan kemampuan ekonomi. Maka dari itu, fasilitas kesehatan diminta tidak berhenti pada layanan pengobatan semata.

“Harus ada nilai edukasi terutama dari pihak rumah sakit umum daerah atau swasta dan puskesmas. Tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tapi edukasi juga penting sehingga kejadian serupa tidak terulang dan masyarakat semakin paham,” katanya.

Selain penguatan edukasi, Zaini juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk meninjau kebutuhan tenaga dokter spesialis kandungan di wilayah tersebut.

“Tentu ke depan harus memenuhi unsur yang ada, salah satunya keterkaitan keberadaan dokter spesialis apakah perlu ditambah atau tidak, termasuk unsur lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Dinkes Jabar menyatakan meninggalnya bayi dalam kandungan Rosita bukan disebabkan penolakan operasi caesar oleh RS Pakuwon Sumedang. Otoritas kesehatan menyebut terdapat miskomunikasi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit terkait tindakan medis yang akan dilakukan.


Editor : Doni Ramdhani