Gaji Besar, Jerat Narkotika Generasi Muda

IMING-iming uang besar menjadi jebakan bagi sebagian generasi muda. Alih-alih meraih penghasilan, mereka justru berhadapan dengan hukum.

Gaji Besar, Jerat Narkotika Generasi Muda
PERKARA HUKUM: Praktisi hukum Sutan Surya Lubis mengungkapkan banyak Generasi (Gen) Z (kelahiran 1997- 2012) yang terjerembab dalam perkara hukum, khususnya perkara peredaran narkotika

Oleh: Reza Zurifwan

Di balik angka perkara narkotika yang terus bergulir di meja hijau, tersimpan cerita tentang anak-anak muda yang terjebak dalam lingkaran gelap peredaran barang haram.

Sebagian dari mereka bukan berangkat sebagai pelaku besar, melainkan tergoda oleh iming-iming penghasilan tinggi di tengah sulitnya mencari pekerjaan.

Praktisi hukum Sutan Surya Lubis melihat fenomena tersebut dalam pendampingan hukum yang dilakukannya.

Dalam satu bulan, dia menangani sedikitnya 10 perkara peredaran narkotika dengan banyak terdakwa berasal dari kelompok Generasi Z atau mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012.

“Pengalaman saya selama setahun ini, banyak generasi atau Gen Z yang menjadi pengedar narkotika karena iming-iming pendapatan yang tinggi, hingga puluhan juta rupiah,” ujar Sutan kepada wartawan, Selasa (4/8).

Menurutnya, tawaran uang besar menjadi salah satu pintu masuk yang membuat sebagian anak muda mengambil keputusan tanpa memahami risiko yang akan dihadapi.

Terlebih, kondisi ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja membuat sebagian dari mereka mudah tergoda.

Sutan mencontohkan kasus clandestine laboratory atau laboratorium narkotika tersembunyi yang memproduksi tembakau sintetis di kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, pada Februari 2025 lalu.

Dalam perkara tersebut, terpidana HP (36) dan AA (25) disebut awalnya hanya mendapat tawaran pekerjaan dengan bayaran Rp20 juta untuk dua minggu. Tawaran itu datang ketika AA menjenguk temannya yang sedang menjalani hukuman di Lapas Cipinang, Jakarta.

“AA ini awalnya menjenguk temannya terpidana narkotika di Lapas Cipinang, Jakarta dan ia ditawari pekerjaan Rp20 juta untuk dua minggu kerja di Sentul, Kabupaten Bogor.

Karena pendapatannya sebagai ojek online kecil, ia pun tertarik tanpa mengetahui apa pekerjaannya,” kata Sutan.

AA kemudian mengajak HP, seorang pengangguran yang telah memiliki seorang anak, untuk ikut bekerja. Keduanya kemudian dijemput dan dibawa ke sebuah rumah mewah yang telah diubah menjadi laboratorium tersembunyi.

(gin)


Editor : Inilahkoran