Imbas Kenaikkan Harga Minyakita, Pedagang di Pasar Tradisional Keluhkan Menurunnya Pembeli

Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Cimahi mengeluhkan berkurangnya konsumen akibat kenaikkan harga minyakita yang terjadi belakangan ini.

Imbas Kenaikkan Harga Minyakita, Pedagang di Pasar Tradisional Keluhkan Menurunnya Pembeli
Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Cimahi mengeluhkan berkurangnya konsumen akibat kenaikkan harga minyakita yang terjadi belakangan ini./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Cimahi - Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Cimahi mengeluhkan berkurangnya konsumen akibat kenaikkan harga Minyakita yang terjadi belakangan ini.

Tak hanya itu, para pedagang juga mengaku kebingungan menyiasati naiknya harga minyakita lantaran harga minyak goreng bersubsidi ini paling murah dan bisa memberikan keuntungan dibandingkan minyak goreng premium lainnya.

Rita (35) misalnya, pedagang di Pasar Antri Baru ini mengaku khawatir omsetnya bakal semakin menurun akibat naiknya minyakita. Bahkan, untuk satu karton minyakita saat ini mencapai Rp 181 ribu.

"Itu harga yang paling murah. Harga per 2 liter juga sekarang Rp 32 ribu. Ini lagi masa sulit, jadi pembeli berkurang ke kita, tadi nya kan dari minyak curah belinya ke minyakita," kata Rita, Jumat 26 Juli 2024.

"Tapi sekarang minyakita mahal jadi pembeli malah berkurang, bingung kita juga," sambungnya.

Kondisi yang sama juga dirasakan Asep (52). Pedagang Pasar Antri Baru ini juga mengakui dampak akibat kenaikan harga minyakita.

"Harga Rp. 16.000 itu udah naik sejak lama, mungkin hampir dari sebulan. Diharga segitu aja sudah tidak ada laba ke kitanya," ucapnya.

Tak hanya itu, Asep juga sempat kebingungan untuk menjual minyakita. Sebab, selain kenaikkan harga suplai dari distributor juga sempat menurun.

"Makanya bingung menjualnya, sekarang sedikit. Sekarang yang subsidi sepertinya semuanya udah tidak ada yang suplai ke sini. Makanya disini minyakita dari sales canvasing saja," bebernya.

Menurutnya, minyakita saat ini tidak langka, namun harganya tinggi. Selain itu, jarang ada pemantauan harga ke Pasar Antri Baru baik dari Pemkot Cimahi atau pun pihak lainnya.

"Yang memantau harga juga ke sini jarang-jarang sih, tidak seperti dulu. Saya menilainya tidak ada kontrol untuk pengendalian harga," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Cimahi, Hella Haerani mengaku hingga saat ini pihaknya mendengar kabar tersebut tanpa bukti yang signifikan.

Oleh karena itu, langkah lebih lanjut tengah diambil untuk memastikan harga tetap stabil.

"Kami berkoordinasi dengan paguyuban pasar, dan kami survei langsung di pasar," kata Hella.

Hella menyebut, hasil survei menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak goreng belum terjadi secara signifikan.

"Belum terlalu signifikan dan tidak signifikan sekali. Hanya segelintir saja dan belum naik, itu hanya isu," ujarnya.

Meski begitu, sebut Hella, guna mencegah kemungkinan kenaikan harga yang tidak wajar, pihaknya bakal turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi dan mencari tahu jika ada oknum yang menaikkan harga minyak tanpa izin.

"Kami akan turun ke lapangan untuk mencari bila ada oknum yang sampai menaikan harga minyak tanpa sepengetahuan kami," tandasnya.***


Editor : JakaPermana