Ketika Buku Mengajak Anak Menjauh dari Gawai
BUKU dan gadget kini berebut perhatian anak. Bogor memilih menghadirkan ruang baru untuk mendekatkan keduanya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh:Rizki Mauludi
Layar ponsel sudah begitu dekat dengan keseharian anak-anak. Waktu bermain, belajar, hingga mencari hiburan kerap berlangsung di depan gadget. Ruang untuk membuka buku dan membaca pun perlahan harus bersaing dengan derasnya paparan dunia digital.
Kondisi itu mendorong Ketua TP PKK Kota Bogor sekaligus Bunda Literasi Kota Bogor, Yantie Rachim, menghadirkan ruang alternatif bagi anak-anak dan keluarga melalui Program Jejaring Edukasi Masyarakat dan Literasi (Jemari PKK) serta Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Langkah tersebut diawali dengan hadirnya TBM Kelurahan Bubulak yang baru diluncurkan. Program Jemari PKK menjadi inovasi Pokja 2 TP PKK Kota Bogor untuk memperkuat budaya literasi sekaligus menghadirkan aktivitas positif di tengah tingginya penggunaan gadget.
“Untuk awalan kami sudah ada TBM Kelurahan Bubulak yang kemarin baru dilaunching. Program Jemari PKK merupakan inovasi Pokja 2 TP PKK Kota Bogor untuk upaya memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat sekaligus memberikan alternatif aktivitas bagi anak-anak dan keluarga di tengah tingginya paparan penggunaan gadget,” ujar Yantie, Rabu (2/9).
Bagi Yantie, membangun budaya membaca tidak berhenti pada menyediakan rak dan memenuhi ruangan dengan buku. Lebih dari itu, anak-anak perlu memiliki tempat yang nyaman untuk membaca, belajar, bermain, sekaligus berinteraksi.
Karena itu, keberadaan Jemari PKK dan TBM diharapkan tidak sekadar menjadi fasilitas membaca. Ruang-ruang tersebut ingin dibuat dekat dengan keseharian masyarakat sehingga buku lebih mudah dijangkau dan kegiatan literasi terasa menyenangkan.
“Kami berharap melalui program ini dan hadirnya TBM, seluruh masyarakat dapat menikmati serta mengakses fasilitas membaca yang tersedia,” katanya.
Yantie pun mencoba memulainya dari hal sederhana: keluarga. Ia mengaku kerap meluangkan waktu membaca buku bersama anak-anak.
Bagi dirinya, kebiasaan tersebut bukan sekadar mengisi waktu luang. Membaca bersama menjadi cara untuk memberi contoh bahwa buku tidak selalu identik dengan kewajiban atau tugas sekolah. Buku juga bisa menjadi pintu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
(gin)
Editor : Inilahkoran

