Ketika Candi Bentar Hadir di Gedung Sate

Ketika Candi Bentar Hadir di Gedung Sate
PICU SOROTAN: Pembangunan dua gerbang baru berbentuk Candi Bentar di kawasan depan Gedung Sate, Bandung, memicu sorotan publik di media sosial. Warganet mempertanyakan keselarasan desain gerbang tersebut dengan Gedung Sate.

Oleh: Yuliantono

Wajah kawasan Gedung Sate perlahan berubah. Di antara bangunan bersejarah yang selama ini menjadi salah satu ikon Bandung, kini berdiri dua gerbang baru berbentuk Candi Bentar.

Kemunculannya segera mengundang perhatian. Media sosial ramai dengan pertanyaan tentang keselarasan desain gerbang tersebut dengan Gedung Sate yang dikenal memiliki karakter arsitektur art deco peninggalan kolonial Belanda.

Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kehadiran Candi Bentar bukanlah elemen yang tiba-tiba muncul. Gerbang itu menjadi bagian dari konsep revitalisasi kawasan sekaligus upaya menghadirkan identitas budaya daerah di ruang publik.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengatakan, desain gerbang baru tersebut sebenarnya mengadopsi Candi Bentar yang telah lama berada di kompleks Gedung Sate.

Perbedaannya hanya terletak pada ukuran yang dibuat lebih besar untuk menyesuaikan tata ruang kawasan yang telah direvitalisasi.

“Untuk desain dan konsep, sebetulnya ini sama dengan Candi Bentar yang di halaman Gedung Sate tampilannya. Sama aja, cuma dimensinya aja lebih besar. Karena mengikuti desain jalannya yang lebih besar,” kata Adi, Kamis (3/9).

Pilihan Candi Bentar, menurut Adi, berkaitan dengan keinginan menghadirkan sentuhan kearifan lokal Jawa Barat di salah satu kawasan paling dikenal di provinsi tersebut.

“Nah, kenapa Candi Bentar? Ya itu juga bagian dari desain-desain, konsep kearifan kedaerahan,” ujarnya.

Candi Bentar sendiri bukan sesuatu yang asing dalam lanskap budaya Jawa Barat. Bentuk serupa dapat ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk Cirebon.

Karena itu, keberadaannya di kawasan Gedung Sate dipandang sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekhasan daerah melalui penataan ruang.

“Itu Candi Bentar juga kan dipakai di beberapa wilayah ya, di Cirebon juga ada. Untuk menunjukkan bahwa itu sebuah ruang area yang memang diadopsi dari kekhasan daerah di Jawa Barat,” ucapnya.

Perubahan wajah kawasan tentu membawa beragam tanggapan. Ada yang mempertanyakan kesesuaian gerbang baru dengan bangunan utama Gedung Sate. Namun, ada pula masyarakat yang melihat revitalisasi tersebut sebagai cara membuat kawasan terasa lebih hidup dan tidak monoton.

Adi menyebut perbedaan pandangan itu sebagai hal yang wajar. Setiap orang memiliki cara sendiri dalam melihat perubahan sebuah ruang publik.

“Netizen bisa silakan mengapresiasikan, silakan pendapatnya untuk bagaimana melihat sekarang bentuk kawasan yang sekarang diperbangun beda-beda,” katanya.

Menurut dia, apresiasi juga datang dari masyarakat yang menilai kawasan Gedung Sate kini terlihat lebih megah. Kehadiran sejumlah ikon baru dianggap memberikan warna berbeda tanpa harus menghilangkan karakter kawasan.

(gin)


Editor : Inilahkoran