KPID Jabar Gandeng Empat Perguruan Tinggi Lakukan Riset ASO, Ini Hasilnya
KPID Jabar melibatkan empat perguruan tinggi guna melakukan riset migrasi penyiaran analog switch off atau ASO. Keempat perguruan itu yakni Unpad, Unpas, Unisba, dan Unswagati. Hasilnya, migrasi penyiara ke digital ini masyarakat mendapatkan banyak keuntungan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah atau KPID Jabar melibatkan empat perguruan tinggi guna melakukan riset migrasi penyiaran analog switch off atau ASO.
Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet mengatakan, riset terkait ASO itu dilakukan bersama dengan empat perguruan tinggi itu yakni Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Islam Bandung (Unisba), dan Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati).
Menurutnya, hasil riset KPID Jabar bersama empat perguruan tinggi tersebut menunjukkan program ASO atau migrasi penyiaran dari analog ke digital itu masyarakat mendapatkan banyak keuntungan.
"Setiap keputusan yang diambil harus ada data. Ini yang kami lakukan dan bagian dari penguatan langkah ke depan," kata Adiyana, Kamis 25 Agustus 2022.
Dia mengakui, ada tantangan yang dihadapi bagi lembaga penyiaran dengan adanya kebijakan ASO tersebut. Kendati demikian, terdapat keuntungan seperti efesiensi biaya, kualitas siaran, dan lainnya.
Hasil dari tim riset Unpad tentang program siaran pasca-ASO, kata dia, nantinya akan ada lokalitas muatan siaran yang bisa menjadi content killer. Sedangkan, riset Unpas mengenai ekosistem yang terbangun setelah ASO.
Unisba meneliti mengenai industri kreatif yang bakal tumbuh karena pemberlakukan ASO.
"Usai produktif di Jabar itu ada 38,6 juta jiwa. Ini pintu masuk mengais rezeki di sana. Kontennya, bisa disalurkan ke lembaga penyiaran dikonversi menjadi nilai ekonomi," kata Adiyana.
Selain itu, riset Unswagati mengambil tema kolaborasi ekosistem pada saat ASO terealisasi. Hasilnya, televisi lokal memiliki peluang untuk membangun ekosistem industri.
Sedangkan, peneliti Unisba Atie Rachmiatie mengatakan migrasi ke digital sudah dilakukan sebelumnya negara selain Indonesia. Menurutnya, di satu sisi migrasi menuju digital berpeluang besar untuk menumbuhkan tayangan berkualitas dan ekonomi masyarakat.
Kendati demikian, tak menutup kemungkinan muncul kendala dari segi ekonomi. Khususnya, terkait kebutuhan set top box (STB) dan kebutuhan infrastruktur penyiaran di daerah.
Kerja sama antar pihak itu merupakan upaya dalam memotong lingkaran setan yang terjadi saat ini. Sebab, lanjut Atie, siaran saat ini cenderung kurang berkualitas namun dipertahankan karena mengikuti pasar.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jabar Ika Mardiah mengatakan migrasi ke digital tak hanya berdampak pada kualitas siaran. Ika menjelaskan ada peluang tumbuhnya ekonomi daerah.
"TV digital ini menumbuhkan dan memperkuat platform. Saat ini kan platform dari luar negeri. Sedangkan, siaran TV digital ini kan dibuat warga, ini akan memperkuat ekonomi masyarakat," kata Ika.
Ika juga mengatakan riset yang dilakukan empat perguruan tinggi dan KPID itu menjadi bahan untuk menentukan kebijakan selanjutnya setelah ASO diterapkan. Banyak aspek yang bakal berubah ketika ASO sudah berjalan.*** (rianto nurdiansyah)
Editor : Doni Ramdhani

