Manufaktur Motor Utama Ekonomi Jabar: Mesin Utama Penghasil Devisa
JAWA Barat kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu motor perdagangan nasional. Sektor industri manufaktur jadi kontributor utama.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
Sepanjang semester I 2026, Jabar membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$13,79 miliar. Pencapaian itu ditopang kinerja ekspor yang terus tumbuh dan dominasi sektor industri manufaktur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat nilai ekspor Januari-Juni 2026 mencapai US$19,60 miliar. Angka tersebut meningkat 5,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati menyebut, tren ekspor juga menguat secara bulanan. Pada Juni 2026, nilai ekspor Jawa Barat naik 6,85 persen dibandingkan Mei 2026 seiring meningkatnya pengiriman produk migas maupun nonmigas ke pasar global.
Struktur ekspor Jawa Barat masih didominasi industri pengolahan, yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi daerah.
“Kontribusi ekspor Januari-Juni 2026 masih didominasi oleh ekspor sektor industri manufaktur sebesar 98,66 persen, diikuti Sektor migas 0,73 persen, sektor pertanian 0,61 persen, dan sektor tambang 0,01 persen,” ujar Ari dalam rilis Berita Resmi Statistik, Senin (3/8).
Sementara itu, aktivitas impor menunjukkan tren yang lebih terkendali. Sepanjang Januari-Juni 2026, nilai impor Jawa Barat tercatat sebesar US$5,81 miliar atau turun 3,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut terutama dipicu berkurangnya impor sektor migas. Meski demikian, secara bulanan nilai impor pada Juni 2026 meningkat 17,79 persen dibandingkan Mei 2026 akibat kenaikan impor migas dan nonmigas.
Mayoritas barang yang masuk ke Jawa Barat masih digunakan untuk menopang aktivitas industri. Sebanyak 80,41 persen impor berupa bahan baku dan barang penolong, sementara 10,48 persen merupakan barang modal dan 9,11 persen barang konsumsi.
Komposisi tersebut menunjukkan, impor Jawa Barat masih didominasi kebutuhan produksi, bukan konsumsi.
Kombinasi ekspor yang tumbuh dan impor yang relatif terkendali, membuat Jawa Barat mencatat surplus perdagangan yang sangat besar selama enam bulan pertama 2026.
“Sehingga selama Januari-Juni 2026 neraca perdagangan Jawa Barat mengalami surplus US$ 13,79 miliar. Jika dirinci berdasarkan negara, Jawa Barat mengalami surplus perdagangan dengan Amerika Serika sebesar US$ 3,08 miliar, Filipina surplus US$ 1,72 miliar , Vietnam surplus US$ 1,04 miliar dan Thailand surplus US$ 881,79 juta. Sedangan dengan Tiongkok mengalami defisit US$ 1,19 miliar, dan dengan Taiwan defisit US$ 53,84 juta,” paparnya.
Amerika Serikat menjadi pasar yang memberikan surplus terbesar bagi Jawa Barat, dengan nilai mencapai US$3,08 miliar. Posisi berikutnya ditempati Filipina, Vietnam, dan Thailand yang turut menjadi tujuan ekspor utama produk-produk manufaktur asal Jawa Barat.
Namun di balik surplus besar tersebut, hubungan dagang dengan Tiongkok masih menjadi tantangan. Jawa Barat tercatat mengalami defisit perdagangan sebesar US$1,19 miliar dengan negara tersebut, menunjukkan tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku dan produk impor dari negeri Tirai Bambu.
Kinerja perdagangan semester I 2026 ini sekaligus mempertegas ketergantungan ekonomi Jawa Barat pada sektor manufaktur yang tetap menjadi mesin utama penghasil devisa daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global. (bsf)
Editor : Inilahkoran


