Menata Harapan di Atas Perlintasan

PEMERINTAH pusat berencana membangun flyover yang menghubungkan kawasan Pilang, Kabupaten Cirebon, dengan Jalan Slamet Riyadi atau kawasan Krucuk, Kota Cirebon.

Menata Harapan di Atas Perlintasan
MACET: Antrean kendaraan di sekitar perlintasan kereta api kawasan Krucuk, Kota Cirebon. Pemerintah pusat berencana membangun flyover Pilang–Krucuk sepanjang sekitar 400 meter menggunakan dana APBN.(INILAH/Maman Suharman )

Oleh: Maman Suharman

Setiap pagi dan sore, rutinitas warga yang melintas dari Kabupaten menuju Kota Cirebon harus diuji kesabarannya. Di perlintasan sebidang Krucuk, derap mesin kereta api yang melintas kerap kali memaksa ratusan pengendara roda dua dan mobil mengantre panjang.

Palang pintu yang menutup beberapa kali dalam satu jam bukan cuma memutus arus kendaraan, tetapi juga memotong waktu berharga para pekerja, pedagang, hingga anak-anak sekolah.

Menjawab persoalan menahun ini, pemerintah pusat melalui Kementerian PU menyiapkan langkah besar: sebuah jalan layang (flyover) modern yang akan membentang sepanjang 400 hingga 450 meter dengan ketinggian kurang lebih 11 meter.

Proyek yang menggunakan dana APBN ini dirancang mulai menanjak dari kawasan Pilang Raya, melayang anggun di atas rel kereta, dan berakhir turun di sekitar kawasan rumah makan Empal Gentong Krucuk.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Cirebon, Gunawan, rencana ini bukan sekadar urusan memindahkan kendaraan dari bawah ke atas, melainkan ikhtiar penting demi keselamatan jiwa dan kelancaran nadi perekonomian daerah.

“Anggaran pembangunan jalan layang tersebut bersumber dari APBN,” kata Gunawan, Selasa (13/10).

Berdasarkan gambaran awal, konstruksi flyover direncanakan berawal dari kawasan Pilang yang merupakan bagian dari ruas jalan nasional. Bentangan jalan layang tersebut diperkirakan mencapai sekitar 400 meter.

Sementara itu, titik akhir atau turunan flyover diproyeksikan berada di sekitar kawasan rumah makan Empal Gentong Krucuk, Jalan Slamet Riyadi.

"Diperkirakan turunannya di sekitar (rumah makan) Empal Gentong Krucuk," ujar Gunawan.

Pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan dapat mengurangi konflik arus kendaraan dengan perjalanan kereta api sekaligus memperlancar mobilitas masyarakat yang setiap hari melintasi kawasan tersebut.

Namun, rencana pembangunan flyover juga memunculkan dua pandangan di kalangan masyarakat, terutama terkait manfaat jangka panjang dan potensi dampak selama proses konstruksi.

Warga yang mendukung pembangunan menilai keberadaan jalan layang dapat menjadi solusi terhadap antrean kendaraan di sekitar perlintasan kereta api.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai akses menuju permukiman dan tempat usaha apabila pembangunan berlangsung.

“Jangan hanya memikirkan kemacetan. Pemerintah juga harus melihat dampaknya terhadap warga dan pedagang di sepanjang jalan. Kalau akses usaha tertutup atau jalan menjadi sulit dilalui, masyarakat juga yang dirugikan.” kata Liani salah satu warga sekitar.

Namun warga lainnya bernama Yudi mengaku setuju setuju saja kalau proyek tersebut terlaksana. Asal, bisa mengurai kemacetan yang cukup panjang terlebih diperlintasan rel kereta Krucuk.

"Kalau memang bisa mengurangi kemacetan, saya sangat mendukung. Selama ini kalau kereta lewat, kendaraan harus berhenti dan antre. Mudah-mudahan dengan adanya flyover, perjalanan masyarakat jadi lebih lancar.” pungkasnya.

Selain persoalan kelancaran lalu lintas, warga juga meminta pemerintah  memperhatikan dampak sosial dan ekonomi masyarakat di sepanjang jalur pembangunan.

Keberadaan flyover nantinya  perlu diimbangi dengan pengaturan akses jalan lokal agar tidak menimbulkan persoalan baru, khususnya bagi warga dan pelaku usaha yang berada di sekitar kawasan Pilang hingga Krucuk. (bsf)


Editor : Inilahkoran