Misi Besar BRT Bandung Raya, Sosiolog Sebut Nyaman Saja Gak Cukup

Misi besar Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya untuk mengurai kemacetan, khususnya di Kota Bandung, mendapat sambutan positif dari Sosiolog

Misi Besar BRT Bandung Raya, Sosiolog Sebut Nyaman Saja Gak Cukup
Misi besar Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya untuk mengurai kemacetan, khususnya di Kota Bandung, mendapat sambutan positif dari Sosiolog./istimewa

INILAHKORAN.ID – Misi besar Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya untuk mengurai kemacetan, khususnya di Kota Bandung, mendapat sambutan positif dari sosiolog Garlika Martanegara.

Namun, di balik optimisme tersebut, ia mengingatkan bahwa perjalanan BRT Bandung Raya menuju moda transportasi pilihan utama warga tidak akan mudah.

Menurut Garlika, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) krusial yang harus dituntaskan pemerintah agar masyarakat benar-benar tergerak meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi massal.

PR pertama yang dinilainya mutlak adalah kenyamanan infrastruktur. Ia mencontohkan moda transportasi massal di Jakarta, seperti TransJakarta, yang berhasil menarik minat pengguna karena faktor kenyamanan.

"Yang jelas pertama harus nyaman," kata Garlika kepada INILAHKORAN.ID, Kamis, 29 Januari 2026.

PR kedua, yang justru dinilainya paling berat, adalah mengubah perilaku masyarakat Bandung Raya. Garlika menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang membuat tantangan ini tidak sederhana.

Pertama, kondisi geografis Bandung Raya yang relatif kecil dengan jarak tempuh antarwilayah yang cenderung singkat. Hal ini berbeda dengan Jakarta yang memiliki bentang wilayah luas sehingga masyarakatnya dituntut mengejar kecepatan dan efisiensi waktu.

"Di Jakarta itu, orang mengejar kecepatan karena mereka tinggal dari ujung ke ujung. Misal, tempat tinggal di BSD (Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan), ngantor di Sudirman (Jakarta Pusat). Kalau pakai kendaraan pibadi, ya wassalam. Makanya mereka pilih public transport," ucapnya.

Sementara di Kota Bandung, lanjut Garlika, jarak yang relatif dekat membuat masyarakat cenderung lebih santai dan tidak merasa terdesak untuk beralih ke angkutan massal.

Faktor kedua yang tak kalah berpengaruh adalah gaya hidup. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat Bandung Raya yang memandang penggunaan kendaraan pribadi sebagai simbol kenyamanan sekaligus prestise.

"Orang Bandung itu masih ada yang menganut, mending pakai mobil sendiri deh, lebih gaya, lebih keren," katanya.

Meski demikian, Garlika tetap optimistis BRT Bandung Raya berpeluang menjadi moda transportasi utama masyarakat. Namun, optimisme tersebut disertai sejumlah catatan penting. Selain aman dan nyaman, BRT juga harus terjangkau secara biaya serta didukung oleh jaringan feeder yang terkoneksi dengan baik.

"Jadi kuncinya itu. Senyaman apa dulu nih. Kalau sudah nyaman semua, ada potensi perubahan pola," tandasnya.

Seperti diketahui, rencananya BRT Bandung Raya bakal digarap massif pada 2026 ini dan ditargetkan selambat-lambatnya awal 2028 sudah bisa beroperasi penuh.

Merujuk pemaparan terakhir antara Kemenhub dan Dishub Jabar, proyek BRT Bandung Raya yang akan digarap mencakup pembangunan 38 halte, 7 depo, 25 ruas jalan, serta 35 jalur dedicated lane.

Biaya pembangunan Infrastruktur BRT Bandung Raya ini bersumber dari World Bank dan AFD, yang dikelola oleh Kemenhub. Rp1,3 triliun disiapkan, antaranya untuk dedicated lane atau jalur khusus sepanjang 2,7 kilometer dan sisanya dialokasikan ke pembangunan depo, halte dan infrastruktur penunjang lainnya.***


Editor : JakaPermana