Pengamat Soroti Dampak Ekonomi dan Sosial Soal Rencana Pembongkaran Teras Cihampelas Segmen 2

Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk membongkar Teras Cihampelas Segmen 2 menuai perhatian dari pengamat kebijakan publik. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono menyoroti potensi dampak negatif terhadap aktivitas ekonomi pedagang dan kenyamanan masyarakat.

Pengamat Soroti Dampak Ekonomi dan Sosial Soal Rencana Pembongkaran Teras Cihampelas Segmen 2
Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk membongkar Teras Cihampelas Segmen 2 menuai perhatian dari pengamat kebijakan publik. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono menyoroti potensi dampak negatif terhadap aktivitas ekonomi pedagang dan kenyamanan masyarakat.

INILAHKORAN.ID - Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk membongkar Teras Cihampelas Segmen 2 menuai perhatian dari pengamat kebijakan publik. pengamat kebijakan publik dari Universitas Parahyangan, Kristian Widya Wicaksono menyoroti potensi dampak negatif terhadap aktivitas ekonomi pedagang dan kenyamanan masyarakat.

pembongkaran Teras Cihampelas Segmen 2, berpotensi menimbulkan dampak signifikan pada pedagang yang berjualan di bawah lokasi teras. Terutama dalam jangka pendek hingga menengah. Hilangnya lokasi berjualan, penurunan arus pengunjung dan kebutuhan relokasi dapat mengurangi pendapatan dan mengancam keberlanjutan usaha. Khususnya bagi pedagang kecil dan informal,” kata Kristian Widya Wicaksono, Kamis 18 Desember 2025.

Selain dampak ekonomi, pembongkaran juga berisiko menurunkan kenyamanan masyarakat. Proses pembangunan ulang diprediksi akan menimbulkan kebisingan, debu serta mengganggu akses pejalan kaki dan mobilitas di kawasan Cihampelas.

Ia menekankan, manfaat pembongkaran baru bisa dirasakan apabila hasilnya mampu meningkatkan kualitas ruang publik dan aksesibilitas secara nyata disertai kebijakan mitigasi bagi pedagang terdampak. Dalam perspektif perencanaan kota berkelanjutan, pembongkaran total tidak selalu menjadi pilihan terbaik.

“Keberlanjutan menuntut efisiensi sumber daya, perlindungan sosial ekonomi dan perhatian pada kelompok rentan. Pembangunan fasilitas publik, sebaiknya sesuai prinsip kota ramah pejalan kaki yang menekankan kenyamanan, keselamatan dan konektivitas,” ucapnya.

Kristian juga menyoroti adanya alternatif revitalisasi tanpa pembongkaran total. Perbaikan bertahap seperti penataan ulang kios pedagang, peningkatan kualitas drainase, pencahayaan, ruang hijau dan adaptive reuse elemen yang ada diyakini lebih berkelanjutan.

Pendekatan eksperimental dan bertahap, memungkinkan pengujian desain ruang publik sebelum diterapkan permanen sambil meminimalkan gangguan sosial ekonomi dan mempertahankan karakter kawasan. Ia menekankan pentingnya partisipasi publik sejak tahap perencanaan.

“Idealnya, pedagang, warga sekitar, pelaku usaha dan masyarakat sipil dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Partisipasi bermakna bukan hanya sosialisasi, tapi memberi ruang bagi masukan publik untuk memengaruhi arah kebijakan dan desain,” ujar dia.

Sambung ia, nilai sejarah, budaya dan identitas kota juga tidak boleh diabaikan. Teras Cihampelas dianggap sebagai simbol aktivitas ekonomi dan pariwisata perkotaan, sekaligus menyimpan memori kolektif masyarakat. Pihaknya menekankan, pelestarian elemen identitas kawasan harus menjadi bagian dari kebijakan revitalisasi.

“Pemkot Bandung sebaiknya menyeimbangkan pembangunan, dan pelestarian melalui pendekatan berbasis kajian komprehensif dan bertahap. Dengan mengedepankan perbaikan kontekstual, pelibatan publik yang bermakna, perlindungan terhadap pedagang lokal dan pelestarian elemen identitas. Revitalisasi Teras Cihampelas dapat menjadi lebih inklusif, berkelanjutan dan selaras dengan karakter Kota Bandung,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana