Pengamat: Sulit Tumbangkan PDIP di Pilbup Cirebon 2024

Akademisi Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Ahmad Yusron mengatakan, kekuatan suara PDIP di Pilbup Cirebon 2024 disebut masih cukup solid. 

Pengamat: Sulit Tumbangkan PDIP di Pilbup Cirebon 2024
Meskipun saat Pilpres lalu, suara PDIP di Kabupaten Cirebon tergerus dan dimenangkan pasangan Prabowo-Gibran, namun itu tidak akan berlaku dalam kalkulasi Pilbup Cirebon 2024. (ilustrasi/net)

INILAHKORAN, Cirebon - Akademisi Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Ahmad Yusron mengatakan, kekuatan suara PDIP di Pilbup Cirebon 2024 disebut masih cukup solid. 

Meskipun saat Pilpres lalu, suara PDIP di Kabupaten Cirebon tergerus dan dimenangkan pasangan Prabowo-Gibran, namun itu tidak akan berlaku dalam kalkulasi Pilbup Cirebon 2024. 

Yusron menuturkan, sulitnya menumbangkan suara PDIP di Pilbup Cirebon 2024 karena partai ini mempunyai massa yang cukup kompak dan militan.  Untuk itu, Yusron memprediksi bahwa kursi E1 sepertinya akan kembali diduduki incumbent.

"Hampir 20 tahun PDIP itu memegang kekuasaan pemerintahan di Kabupaten Cirebon. Nah dengan rentang waktu yang cukup lama itu, otomatis loyalis PDIP akan semakin solid dan pastinya akan bertambah. Ini yang cukup menyulitkan parpol lain menumbangkan PDIP," ungkapnya, Minggu 25 Agustus 2024.

Namun, akunya, perjuangan PDIP di Pilbup Cirebon 2024 kali ini bukan berarti mudah. Dengan adanya koalisi Gemuk yaitu Golkar, Gerindra, Demokrat, PKB dan PKS mau tidak mau menjadi pertarungan besar PDIP untuk mempertahankan kemenangan. Sementara koalisi KIM Plus juga harus mencetak sejarah, bisa menumbangkan petahana.

"Saya masih meyakini PDIP di Pilkada Kabupaten Cirebon masih kuat. Tapi perjuangan PDIP untuk memenangkan hajat lima tahunan ini tidak semudah periode sebelumnya. Dan koalisi KIM walaupun gemuk, pasti akan menghadapi lawan yang tidak bisa dianggap enteng," ucapnya.

Yusron menilai, meskipun tingkat elektabilitas Imron sebagai bupati petahana tidak bagus bagus amat, namun tidak akan mempengaruhi kekuatan suara PDIP. Artinya, di Kabupaten Cirebon sendiri siapapun calonnya pasti mempunyai kans kuat untuk menang kalau memakai kendaraan PDIP.

"Kabupaten Cirebon itu, kulturnya beda dengan Kota Cirebon. Buktinya, hanya periode 2019-2024, PKB menjadi pemenang pemilu, tapi kan bupatinya dari PDIP. Nah periode ini PDIP kembali menjadi pemenang pemilu dan Imron kembali mencalonkan menjadi bupati cirebon," terangnya.

Hal senada dikatakan pemerhati politik Cirebon Yogi Susilo. Dia melihat kondisi Imron diuntungkan dengan keadaan. Padahal selama menjabat sebagai bupati, tidak ada perubahan yang cukup signifikan untuk kemajuan Kabupaten Cirebon.  Namun dia juga menilai, calon calon dari partai lain sepertinya tidak mempunyai latar belakang yang mumpuni dan siap menjadi Bupati Cirebon.

"Saya miris karena Kabupaten Cirebon sebetulnya krisis kepemimpinan.  Parpol yang ada saat ini juga tidak punya kader terbaik. Lihat saja, yang daftar calon bupati kan banyaknya bukan kader parpol. Jadi siapapun bupati terpilih nanti, apakah mampu tidak memperbaiki kondisi Kabupaten Cirebon yang semakin terpuruk," tukasnya.

Dirinya juga sepakat, kalau saat ini koalisi PDIP-Nasdem mempunyai kans kuat memenangkan Pilkada Kabupaten Cirebon. Hal itulah yang harus diwaspadai koalisi KIM Plus dalam menghadapi kekuatan PDIP. Kekuatan KIM plus akan sedikit bertambah, manakala koalisi non parlemen memberikan suaranya kepada mereka.

"Namun kalau koalisi non parlemen maju mengusung satu paket pasangan, PDIP pasti diuntungkan.  Kalau  non parlemen gabung sekalipun dengan koalisi KIM, potensi koalisi PDIP-Nasdem tetap menang, walaupun pertarungannya memang cukup berat," tukasnya. 


Editor : Doni Ramdhani