Pengusaha Restoran di Kabupaten Bandung Menjerit, Buntut Harga Pangan dan Energi Meroket

Para pengusaha restoran di Kabupaten Bandung terpukul menyusul melonjaknya harga pangan dan energi akhir-akhir ini.

Pengusaha Restoran di Kabupaten Bandung Menjerit, Buntut Harga Pangan dan Energi Meroket
Para pengusaha restoran di Kabupaten Bandung terpukul karena kenaikan harga pangan dan kebutuhan pokok.
INILAHKORAN,Kenaikan harga elpiji non subsidi dan melonjaknya harga berbagai komoditas pangan, membuat para pelaku usaha rumah makan dan restoran di Kabupaten Bandung terpukul.
 
Kenaikan harga pangan dan energi ini menyebabkan keuntungan para pengusaha restoran di Kabupaten Bandung menurun antara 25 persen hingga 35 persen, dan ancaman kerugian pun sudah didepan mata.
 
Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung, Nono Sambas, mengaku berat dengan kenaikan gas elpiji non subsidi dan juga kenaikan harga berbagai komoditas pangan.
 
 
Dampak dari kenaikan harga ini, membuat para pelaku usaha rumah makan seperti dirinya harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja modal.
 
Tapi sayangnya, meski modal lebih besar, keuntungan yang diperoleh justru lebih kecil.
 
"Berat sekali dampak kenaikan energi dan pangan sekarang ini. Keuntungan memang masih ada, tapi yah tipis turun antara 25 persen hingga 35 persen lah. Jadi sekarang itu bisa bayar hutang, bayar gaji pegawai saja sudah bersyukur" kata Nono yang juga pemilik rumah makan RM Panyaungan di Jalan Raya Banjaran-Soreang, Minggu 17 Juli 2022.
 
Dikatakan Nono, hingga saat ini usaha rumah makannya masih berjalan seperti biasanya. Termasuk berbagai event hajatan klien mereka pun tetap digelar di tempatnya itu.
 
Di sisi lain meski berbagai harga bahan baku sudah naik. Contoh kecilnya, harga ayam kampung dari sebelumnya Rp40 ribu perkilogram kini sudah mencapai Rp50 ribu, itu pun barangnya sulit didapat.
 
 
Begitu juga dengan harga cabai yang dijual di pasar diatas Rp100 ribu perkilogramnya dari harga normal sekitar Rp30 ribu perkilogram.
 
Namun meski berat, ia mengaku tidak berani menaikan harga jual makanan dan minuman di tempat usahanya itu. Alasannya, ia tidak mau mengecewakan para pelanggan dan kliennya.
 
"Untuk menaikan harga itu tidak mudah yah. Selain harus merubah daftar harga di buku menu, ada juga resiko pengunjung merasa kemahalan. Jadi untuk sementara kami bertahan dengan harga lama, sambil menunggu siap tahu kondisi perekonomian nasional ini segera membaik," ujarnya. 
 
 
Namun, lanjut Nono, jika kondisi ekonomi tak kunjung membaik dan semakin parah. Tidak menutup kemungkinan jika ia dan para pelaku usaha rumah makan, restoran di Kabupaten Bandung gulung tikar.
 
"Kalau lama -lama mah ya bisa ambrol juga. Sekarang walaupun keuntungan tipis kami masih bertahan, karena menjaga konsistensi usaha. Soalnya kalau sudah tutup, mau buka lagi itu prosesnya lama. Dan kalau tutup kasihan pegawai saya ada kurang lebih 90 orang yang turut bergantung hidup dari usaha ini," katanya.
 
Seperti diketahui, belum lama ini pemerintah melalui PT. Pertamina (Persero) menaikan harga gas elpiji non subsidi.
 
Selain kenaikan harga gas elpiji, sebelumnya juga pemerintah telah menaikan harga BBM dan menetapkan PPN baru sebesar 11 persen. Berbagai kenaikan tersebut, tentunya berimbas kepada kenaikan berbagai harga kebutuhan masyarakat.
 
 
"Berbagai kenaikan ini kok hampir berbarengan. Belum juga pulih dari pandemi virus corona, sekarang langsung dihajar oleh berbagai kenaikan harga dan pajak, harapan saya pemerintah itu lihat keaadan rakyatnya yang sudah tercekik ini," ujarnya.***(rd dani r nugraha)


Editor : inilahkoran