Relokasi Massa, Ratusan Kepala Keluarga di Bojongsoang Terima Kompensasi Rp10 Juta
Upaya penataan kawasan rawan bencana di Kabupaten Bandung memasuki babak paling krusial. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memindahkan ratusan kepala keluarga (KK) yang selama ini tinggal di Oxbow Bojongsoang, area yang berulang kali terendam akibat luapan Sungai Cikapundung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Upaya penataan kawasan rawan bencana di Kabupaten Bandung memasuki babak paling krusial. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai memindahkan ratusan kepala keluarga (KK) yang selama ini tinggal di Oxbow Bojongsoang, area yang berulang kali terendam akibat luapan Sungai Cikapundung.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, proses relokasi resmi berjalan hari ini. Ia kembali meninjau langsung lokasi dan menyerahkan bantuan kompensasi kepada warga terdampak.
“Sekarang warganya mulai direlokasi hari ini. Ya hari ini sudah mulai penyerahan uang per kepala keluarga Rp10 juta untuk mereka mencari tempat kontrakan baru,” ujar Dedi saat ditemui di Kota Bandung, Rabu 10 Desember 2025.
Kompensasi tersebut kata Dedi, menjadi modal bagi warga untuk mencari hunian sementara berupa kontrakan selama satu tahun penuh, sebelum pemerintah menentukan lokasi tempat tinggal baru yang permanen.
“Mereka sementara akan tinggal di kontrakan selama satu tahun ke depan,” tuturnya.
Rumah-rumah warga di Oxbow akan dibongkar karena berada tepat di sempadan Sungai Cikapundung dan selama ini menjadi titik kerawanan banjir.
Selama proses relokasi ini, Pemprov Jabar akan menata ulang kawasan sekaligus mengurus penempatan ratusan KK tersebut agar mendapatkan hunian yang lebih aman dan layak.
“Sekarang mencari kontrakan dulu, setelah itu baru kita relokasi. Ya nanti ditentuin setelah mereka tenang dulu mendapat kontrakan selama setahun ke depan,” katanya.
Total ada 372 KK yang masuk dalam daftar relokasi setelah kunjungan Gubernur Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu. Temuan bahwa warga tinggal di bantaran sungai yang rawan bencana menjadi dasar kuat percepatan pengosongan kawasan tersebut.***
Editor : JakaPermana


