Roadshow Literasi Saham Generasi Masa Depan: Bijak Investasi, Paham Antisipasi
Langkah terburu-buru para mahasiswa dalam dalam berinvestasi disebabkan pemahaman minim tentang potensi dan risiko.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Yogo Triastopo
Generasi Z yang mulai melirik pasar modal perlu memahami profil risiko dan tujuan keuangan sebelum menentukan instrumen investasi.
Bagi mahasiswa yang baru mengenal dunia investasi, reksa dana dapat menjadi salah satu pilihan untuk mempelajari mekanisme pasar modal sebelum mendalami saham dan obligasi.
Deputi Wilayah Jawa Barat Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Firman Hananto mengatakan generasi muda memiliki keunggulan dalam mengakses dan menangkap informasi.
Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan analisis yang matang sebelum mengambil keputusan keuangan.
“Gen Z lebih cepat, dalam tanda kutip lebih agresif dalam menangkap informasi dan mengeksekusi informasi juga terkadang memang hanya melakukan beberapa tahapan saja. Enggak sampai melakukan analisis lebih dalam lagi,” kata Firman dalam kegiatan Roadshow Literasi Saham Generasi Masa Depan bertema “GEN Z Melek Investasi” di Universitas Pasundan (Unpas), Rabu (28/10).
Menurut Firman, setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan menghadapi risiko yang berbeda.
Karena itu, tidak ada satu instrumen investasi yang otomatis cocok untuk semua orang. Mahasiswa perlu terlebih dahulu mengenali kondisi keuangan, tujuan yang ingin dicapai, serta seberapa besar risiko yang sanggup mereka tanggung.
“Sebenarnya kalau misalkan bertanya investasi apa yang cocok buat mereka, kita balik lagi ke profil risiko sama tujuan investasi mereka. Karena profil risiko dan tujuan investasi, yang akan menentukan jenis instrumen investasi yang akan dipilih oleh masyarakat,” ujarnya.
Bagi mahasiswa yang baru memulai, memahami investasi tidak harus langsung dilakukan dengan membeli saham sendiri. Firman menyarankan reksa dana sebagai salah satu pintu masuk untuk mengenal pasar modal. Dalam instrumen ini, dana investor dikelola oleh manajer investasi sesuai kebijakan produk yang dipilih.
Sambil mempelajari reksa dana, mahasiswa dapat memperluas pengetahuan mengenai saham, obligasi, serta berbagai instrumen lainnya. Dengan begitu, keputusan investasi diharapkan tidak sekadar mengikuti tren atau ajakan orang lain.
“Biasanya kalau investor pemula, dia belajar dari reksa dana dulu. Karena reksa dana ada manajer investasinya. Selanjutnya sambil belajar, dia menganalisis investasi di saham, obligasi dan produk-produk lainnya,” tutur Firman.
Meski menawarkan peluang keuntungan, setiap instrumen tetap memiliki risiko. Investor pemula perlu memahami karakteristik produk, potensi imbal hasil, serta kemungkinan kerugian sebelum menempatkan uangnya.
Firman juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menaruh seluruh dana pada satu jenis aset. Diversifikasi atau membagi investasi ke beberapa instrumen dapat menjadi salah satu cara untuk membantu mengelola risiko.
“Tujuan kita untuk mitigasi risiko itu adalah diversifikasi investasi. Jadi ada peribahasa, ‘don’t put your eggs in one basket’. Reksa dananya tetap jalan, investasinya di saham juga tetap jalan,” katanya.
Selain memahami risiko, mahasiswa perlu memastikan legalitas produk dan pihak yang menawarkan investasi. Informasi dari media sosial maupun lingkungan pergaulan sebaiknya diperiksa kembali, terutama jika menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Bagi Firman, edukasi pasar modal perlu menjangkau lebih banyak perguruan tinggi agar mahasiswa memiliki bekal yang cukup sebelum memutuskan menjadi investor. Pemahaman tersebut penting untuk membangun kebiasaan mengambil keputusan keuangan berdasarkan pengetahuan, bukan sekadar mengikuti tren.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unpas, Prof. Juanim, menilai, edukasi investasi menjadi kebutuhan bagi mahasiswa yang masih perlu memperdalam pengetahuan tentang pengelolaan keuangan. Bekal tersebut tidak hanya berguna selama masa kuliah, tetapi juga ketika mahasiswa mulai bekerja dan merencanakan kebutuhan masa depan.
“Alhamdulillah, acara hari ini memberikan manfaat bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis karena masih banyak mahasiswa yang tentu belum melek terkait dengan literasi investasi,” kata Juanim.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya terpikat oleh potensi keuntungan. Fluktuasi pasar saham dapat memengaruhi nilai investasi, sehingga pemahaman mengenai risiko dan kesiapan menghadapi perubahan kondisi pasar perlu menjadi bagian dari pertimbangan.
Juanim menyebut deposito, sukuk, dan obligasi sebagai sejumlah alternatif yang dapat dipelajari mahasiswa. Masing-masing memiliki karakteristik, ketentuan, dan tingkat risiko yang berbeda sehingga perlu dipahami sebelum menentukan pilihan.
“Mahasiswa diharapkan mempelajari tingkat risiko, sehingga nanti tidak kapok. Investasi juga memiliki aspek psikologis dan risiko yang perlu diperhatikan,” ujarnya.
Kebiasaan Finansial Sebelum berbicara tentang investasi, kemampuan mengelola uang menjadi fondasi yang tidak kalah penting. Bagi mahasiswa, kebiasaan finansial yang sehat bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti menyisihkan sebagian uang jajan secara rutin dan menentukan prioritas pengeluaran.
Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Konsumer Bank BJB, Maman Rukmana, mengatakan, kesejahteraan finansial tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya penghasilan. Kemampuan mengatur uang juga berperan penting dalam mempersiapkan kebutuhan di masa depan.
“Untuk bisa sejahtera, bukan hanya dari besarnya penghasilan. Tapi dari kemampuan mengelola keuangan,” kata Maman. (bsf)
Editor : Inilahkoran

