Selain Harga yang Naik, Penjual Makanan di Cimahi Keluhkan Minyakita yang Boros saat Digunakan
Imbas kenaikan harga minyakita tak hanya dirasakan para pedagang di sejumlah pasar tradisional, namun juga pedagang makanan di Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, CImahi - Imbas kenaikan harga minyakita tak hanya dirasakan para pedagang di sejumlah pasar tradisional, namun juga pedagang makanan di Kota Cimahi.
Akibat kondisi tersebut, mereka terpaksa menyiasati barang dagangannya dengan cara mengurangi jumlah atau ukuran maupun menaikan harga jual.
"Tiap hari saya pake minyakita karena murah dan terjangkau, tapi karena naik saya harus muter otak biar bisa terus dagang," kata pedagang tahu goreng, Gugun Gunawan (53), Jumat 26 Juli 2024.
Menurut pedagang yang kerap mangkal di Kawasan Cibabat ini, kenaikan harga minyakita sangat berpengaruh terhadap harga jual makanan yang mereka jajakan.
"Sekarang harganya naik jadi Rp 16.500, padahal di kemasannya tertera Rp 14.000," kata Gugun, Jumat 26 Juli 2024.
Lantaran harganya naik, sambung Gugun, dirinya kini beralih ke minyak kemasan merek lain. Sebab, selain harganya naik, kualitas minyakita dianggap kurang memuaskan.
"Sebelum pake minyak goreng merek lain, saya sering menggunakan minyakita. Tapi setelah naik saya beralih ke merek yang lain dengan kualitas lebih bagus," ujarnya.
Kemudian, lanjut Gugun, dari sisi kualitas minyakita lebih boros karena saat menggoreng cepat menyusut jika dibandingkan dengan minyak merek lainnya.
"Kalau minyakita, lebih cepat menyerap ke makanan kalau saat menggoreng. Jadi ke makanan lebih berminyak," ucapnya.
"Terus warnanya minyakita juga kurang jernih," imbuhnya.
Gugun berharap pemerintah dapat menstabilkan harga minyak, khususnya bagi para pelaku usaha yang labanya tak menentu.
"Ya harapannya bagi kami sih bisa lebih dikendalikan lagi. Soalnya pemasukan kan suka tidak tentu," katanya
Keluhan yang sama juga diungkap Yunita (44), penjual ayam geprek di Kelurahan Cibabat ini mengaku bingung lantaran harga di kemasan masih tertera Rp. 14.000, sedangkan di pasar harganya Rp. 16.000.
"Aneh ya, di kemasannya kasih Rp 14.000 sedangkan harganya Rp 16.000. Di warung juga sekarang susah dapatnya," imbuhnya.
Yunita berharap Pemkot Cimahi segera melakukan pengawasan terhadap kenaikan harga minyakita di pasaran.
"Saya berharap pemerintah segera mengendalikan harga minyak lagi, agar masyarakat juga tidak kebingungan apalagi kami yang buka usaha," ucapnya.***
Editor : JakaPermana
