Sikap Kami: Iie
SEPARUH hidupnya dia dikenal sebagai pemain yang eksentrik. Tapi, sepanjang hidupnya, Iie Sumirat dikenang sebagai figur yang nyaris mendekati sempurna.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
SEPARUH hidupnya dia dikenal sebagai pemain yang eksentrik. Tapi, sepanjang hidupnya, Iie Sumirat dikenang sebagai figur yang nyaris mendekati sempurna.
Jangan bayangkan Iie Sumirat muda sebagai pribadi yang demikian santun sebagaimana masa tuanya. Di kalangan pemain bulutangkis di eranya, dia termasuk pemain yang kerap membuat “ulah”.
Dia memiliki begitu banyak senjata. Salah satu yang sangat terkenal adalah pukulan kedutannya. Dia juga kerap menjatuhkan mental lawan dengan aksi-aksinya yang tidak biasa. Svend Pri, pemain Denmark, musuh utama pemain Indonesia saat itu selain Flemming Delfs, adalah korbannya.
Salah satu penampilan mengesankannya adalah di Invitasi Asia di Bangkok. Saat itu, secara beruntun, dua jagoan China, Tong Sin Fu dan Hou Jiachang dia kalahkan dan jadi juara.
Iie tidak seperti Rudy Hartono atau Liem Swie King, yang perjalanannya mengalir seperti air di sungai. Betapapun Rudy atau King mengoleksi gelar juara lebih banyak, di stadion Iie adalah bintangnya. Itu karena aksi-aksinya yang kerap di luar dugaan.
Iie bukanlah pemain biasa-biasa. Karena itu, publik sempat kaget ketika dia memutuskan mundur dari pelatnas di usia emasnya. Tapi, dia tak meninggalkan bulutangkis. Dia mendedikasikan nyaris seluruh hidupnya untuk olahraga tepuk bulu angsa itu.
Maka, kemudian lahirlah Taufik Hidayat, Anthony Ginting, Flandy Limpele, Halim Haryanto hingga Fajar/Alfian. Iie mendapat rekan sehati membina bulutangkis di Bandung: Lutfi Hamid. Mereka berdua melahirkan banyak pemain dari SGS Sangkuriang.
Beda dengan pemain-pemain seangkatannya, Iie tidak hidup dalam hiruk-pikuk para juara. Dia hanya beringas di lapangan. Tapi di luar lapangan, dia sama saja seperti ketika masih kanak-kanak menggeluti bulutangkis di Kota Kembang. Bersahabat, menunjukkan integritas, dan memiliki komitmen kuat.
Kini, Iie sudah pergi. Tetapi, Iie harus tetap diingat. Dia tak hanya memiliki jasa untuk Jawa Barat, tapi juga nasional.
Perlu ada langkah-langkah dari otoritas di Jawa Barat untuk mengenang pria sederhana yang prestasinya mendunia itu. Banyak cara. Mengabadikan namanya pada kejuaraan-kejuaraan kelompok hidup, melekatkan Iie Sumirat pada gedung bulutangkis milik pemerintah, misalnya.
Satu hal yang perlu diyakini, Iie sudah memberikan segalanya untuk Jabar tanpa minta apapun. Pengabdian tulus itu patut mendapatkan penghargaan. (*)
Editor : Zulfirman


