Sikap Kami: Plus-minus Jawa Barat
PENCAPAIAN yang ditorehkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat setahun belakangan, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi, tentu, bukan untuk bertepuk dada.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PENCAPAIAN yang ditorehkan Pemerintah Provinsi jawa barat setahun belakangan, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Tetapi, tentu, bukan untuk bertepuk dada.
Pencapaian itu dibeberkan pada peringatan ulang tahun ke-79 jawa barat di Bandung, Senin (19/8). Sebagai sebuah upacara peringatan hari jadi, memang lazimnya yang diingat adalah hal-hal yang terkait keberhasilan.
Tak ada yang membantah Jabar mengalami kemajuan, terutama dari sektor ekonomi. Misalnya, Kabar kini jadi provinsi penyumbang ekspor tertinggi di Indonesia. Tingkat pencapaian investasinya juga sudah bertahun-tahun mencorong, melampaui Jakarta.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga mengalami peningkatan. Tingkat pengangguran terbuka turun sekitar 217 ribu.
Level kemajuan desa juga menggembirakan. Ketua DPRD jawa barat Taufik Hidayat menyebut sudah ada 1.820 desa mandiri. Lho, tahun sebelumnya, bukankah desa mandiri sudah mencapai 1.828?
Dari sisi penyelenggaraan pemerintahan pun terus membaik. Tahun ini, Jabar menerima predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) untuk ke-13 kalinya. Jabar juga terbaik dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Awards 2024. Terbaik pula dalam pembangunan daerah.
Segala kemajuan itu, selain peran Pemprov Jabar, tentu tidak bisa kita melupakan kondisi wilayah sebagai salah satu pemicunya. Posisi Jabar sebagai daerah penyangga Jakarta, sangat berperan dalam peningkatan investasi, misalnya.
Apapun, tetap saja kita harus memberikan apresiasi terhadap kenerja seluruh perangkat kerja daerah di jawa barat. Tentu, untuk seluruh keberhasilan pencapaian tersebut.
Namun, kita juga tidak bisa melupakan hal-hal lain yang harus diraih Pemprov Jabar dengan kerja lebih keras. Sebab, fakta menunjukkan, sejumlah upaya yang dilakukan, belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan.
Angka stunting jawa barat, misalnya, masih termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2024 menunjukkan prevalensi stunting Jabar menyentuh angka 23,2%. Masih di atas rata-rata Indonesia yang 21,5%.
Tak hanya itu, angka prevalensi stunting pada usia 0-59 tahun justru meningkat sebesar 1,5%. Tahun sebelumnya, angka itu masih di 21,7%.
Tentu, kita juga tak perlu berkecil hati karenanya. Tak perlu pesimistis menghadapi tantangan-tantangan yang memberatkan itu. Yang diperlukan adalah bagaimana upaya dan kerja keras harus tetap dilakukan, oleh semua pemangku kepentingan.
Dirgahayu jawa barat. (*)
Editor : Zulfirman


