SSB UNI Terseret Sengketa Investasi Rp3,6 Miliar

SSB UNI Terseret Sengketa Investasi Rp3,6 Miliar
LANGGAR PKS: Pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI, POR UNI, berurusan di pengadilan terkait pelanggaran Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam kaitan investasi senilai Rp3,6 miliar.

INILAH, Bandung - Pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) UNI, POR UNI, berurusan di pengadilan terkait dugaan pelanggaran Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam investasi senilai Rp3,6 miliar.

Perkara tersebut bermula dari investasi Rp3,6 miliar untuk penguatan infrastruktur SSB UNI yang bermarkas di Ciwastra, Kota Bandung. Dana investasi tidak disalurkan langsung kepada POR UNI, melainkan melalui PT Gibol Jaya Arena (PT GJA).

Melalui PKS Nomor 1 tanggal 2 September 2022, UNI memberikan kepercayaan kepada PT GJA untuk mengelola aset, termasuk lahan, selama 15 tahun.

Investasi tersebut kemudian digunakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana SSB UNI, antara lain pemasangan rumput sintetis dan lampu berstandar stadion sehingga fasilitas latihan menjadi lebih representatif dan profesional.

Namun, dalam perjalanannya, muncul perselisihan antara kedua pihak. PT GJA menilai pengurus POR UNI telah melakukan wanprestasi dengan menyangkal sejumlah kewajiban yang tercantum dalam PKS, termasuk kewajiban pembayaran Rp35 juta sebagai imbal balik investasi.

Berdasarkan perjanjian, setelah target pengembalian investasi selama 41 bulan atau sekitar tiga tahun empat bulan terpenuhi, PT GJA dan UNI akan melakukan renegosiasi untuk menerapkan sistem profit sharing.

Perselisihan tersebut kemudian berkembang menjadi perkara hukum dan kini telah memasuki proses pengadilan.

Wakil Direktur PT GJA sekaligus legenda Persib Bandung dan Tim Nasional Indonesia, Eka Ramdani, menyayangkan munculnya persoalan tersebut. Menurutnya, konflik nonteknis semestinya tidak menghambat upaya meningkatkan kualitas pembinaan sepak bola usia dini.

Eka mengaku terlibat dalam pengembangan UNI karena ingin membantu membangun SSB tersebut agar memiliki standar lebih tinggi dan mampu melahirkan talenta-talenta terbaik.

"Pada dasarnya saya ke SSB UNI untuk melatih siswa-siswa di sana. Dengan potensi yang ada, saya berusaha memberikan sedikit ilmu dan pengalaman yang pernah saya dapatkan," ujar Eka dalam keterangan pers.

Kecintaannya terhadap sepak bola dan kepedulian terhadap anak-anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola profesional juga mendorong Eka bersama sejumlah legenda lainnya, seperti Boy Jati Asmara dan Gilang Jalu, untuk mencari dukungan investor bagi pengembangan UNI.

Dukungan tersebut diarahkan untuk memperbaiki fasilitas latihan sekaligus menunjang proses pembinaan pemain muda.

Eka menilai, berbagai kendala nonteknis yang muncul justru berpotensi menghambat cita-cita besar menjadikan UNI sebagai pusat pembinaan sepak bola berkualitas.

Dia pun menyayangkan persoalan tersebut terjadi di tengah upaya bersama membangun ekosistem pembinaan sepak bola Indonesia dari tingkat akar rumput. (gin)


Editor : Inilahkoran