Uji Coba PM-AAS di Cirebon Lampaui Target: Asa Bersemi di Ladang Petani
PARA petani di Kabupaten Cirebon seperti mendapatkan harapan baru dengan sistem pertanian modern
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Maman Suharman
Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon, Apip Sirojudin ungkap fenomena positif di balik uji coba Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Seperti diketahui, sistem tersebut menggunakan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) dengan target awal seluas 8 hektare di 8 kecamatan.
Apip mengatakan, luas dari uji coba PM-AAS dengan metode Tabela itu telah jauh melampaui target, yakni 16,5 hektare lantara tingginya minat para petani.
"Target awal kami hanya 8 hektare, tetapi realisasinya berkembang jauh lebih besar karena antusiasme petani cukup tinggi," ujar Apip, Minggu 2 Agustus 2026.
Dia menjelaskan, awalnya uji coba baru dilakukan di empat kecamatan, yakni Susukan, Dukupuntang, Pabuaran, dan Susukanlebak. Namun, dalam beberapa hari terakhir, program tersebut meluas ke Kecamatan Palimanan, Gebang, Sedong, dan Sumber.
"Sekarang seluruh delapan kecamatan yang kami rencanakan sudah melaksanakan PM-AAS dengan metode Tabela," katanya.
Menurut Apip, meningkatnya luas lahan uji coba dipengaruhi tingginya minat petani untuk menerapkan sistem pertanian modern. Bahkan, di beberapa wilayah luas lahan yang digunakan melebihi target semula.
Saat ini, Kecamatan Gebang menjadi penyumbang lahan terbesar dengan luas 9 hektare, disusul Susukanlebak 2 hektare. Sementara Palimanan, Pabuaran, Dukupuntang, Sedong, dan Sumber masing-masing 1 hektare, sedangkan Kecamatan Susukan seluas 0,3 hektare.
"Total lahan yang sudah ditanami mencapai 16,5 hektare. Ini menunjukkan respons petani terhadap program PM-AAS sangat positif," ungkapnya.
Apip menilai pelaksanaan uji coba pada musim tanam kedua menjadi waktu yang tepat. Pasalnya, metode Tabela dinilai lebih sesuai diterapkan pada kondisi lahan dengan ketersediaan air yang terbatas.
"Metode ini lebih efektif diterapkan pada musim tanam kedua karena kebutuhan airnya lebih efisien," jelasnya.
Dia mengakui kebutuhan benih dan pupuk pada sistem PM-AAS lebih tinggi dibanding pola tanam konvensional.
Namun, Distan akan menyesuaikan alokasi pupuk subsidi melalui perubahan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) agar kebutuhan petani tetap terpenuhi.
"Kebutuhan pupuk memang meningkat, sehingga kami akan melakukan penyesuaian kuota melalui mekanisme RDKK," ucap Apip Selain pupuk kimia lanjutnya, petani juga diwajibkan menggunakan pupuk organik subsidi sedikitnya 1 ton per hektare sebagai bagian dari penerapan sistem PM-AAS.
Apip menambahkan, keunggulan metode Tabela tidak hanya mempercepat masa tanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas.
Hasil panen dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektare atau lebih tinggi sekitar 3-4 ton dibanding sistem tanam biasa. Penggunaan alat Drumsider juga membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi lebih efisien.
"Produktivitasnya lebih tinggi, panen lebih cepat, dan penggunaan tenaga kerja juga lebih hemat karena proses tanam menggunakan Drumsider," pungkasnya. (bsf)
Editor : Inilahkoran


