Berisiko Kelumpuhan Hingga Buta, Dinkes Imbau Warga Jangan Tolak Vaksinasi Campak

Dinkes Jabar mengimbau warga tidak menolak vaksinasi campak lantaran tingginya penyakit tersebut dan efeknya bisa menimbulkan kelumpuhan hingga buta

Berisiko Kelumpuhan Hingga Buta, Dinkes  Imbau Warga Jangan Tolak Vaksinasi Campak
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani Dewi (dok inilahkoran)

INILAHKORAN.ID - Ancaman penyakit campak tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sejak awal 2026, tercatat 379 kasus terkonfirmasi dengan 5.329 kasus suspek tersebar di Indonesia. Angka ini menjadi sinyal serius bagi kewaspadaan kesehatan masyarakat, terutama di tengah masih adanya penolakan imunisasi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, Vini Adiani Dewi menegaskan, campak bukan sekadar penyakit ringan dengan gejala ruam dan demam. Ia mengingatkan, virus campak dapat memicu komplikasi berat hingga kecacatan permanen.

"Jadi masyarakat diharapkan jangan menolak vaksin, supaya campaknya itu tidak terjadi. campak itu bukan hanya gatel-gatel di seluruh tubuh, panas, batuk, pilek. Itu mah yang ringan. Aslinya itu bisa menyebabkan kelumpuhan, buta, bisa menyebabkan gangguan gigi. Jadi aslinya virus campak itu sangat ganas," ujar Vini saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Selasa 3 Maret 2026.

campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Lingkungan padat penduduk dan rendahnya cakupan imunisasi, menjadi faktor yang mempercepat penyebaran.

Vini menekankan, vaksinasi terbukti mampu menekan tingkat keparahan penyakit, meski tidak sepenuhnya mencegah infeksi.

"Divaksinasi saja orang masih bisa kena. Tapi lebih ringan gejalanya. Penyakitnya, kalau tidak diimunisasi akan berat," ucapnya.

Artinya, imunisasi berperan penting dalam mencegah komplikasi serius yang dapat berujung pada kelumpuhan, kebutaan, hingga gangguan kesehatan jangka panjang.

DInkes Jabar mendorong pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok sebagai strategi utama memutus rantai penularan. Anak yang telah mendapatkan imunisasi lengkap cenderung mengalami gejala lebih ringan jika terinfeksi.

"Kalau pernah diimunisasi waktu kecil, gejalanya paling panas, batuk, pilek, gatel. Tapi kalau belum pernah diimunisasi campak itu bisa parah dampaknya," katanya.

Fakta di lapangan menunjukkan, dari 100 persen pasien yang pernah mengalami campak, sekitar 60-70 persen di antaranya belum pernah menerima imunisasi. Kondisi ini memperlihatkan masih adanya celah perlindungan kesehatan yang perlu segera ditutup.

Dengan ratusan kasus terkonfirmasi dan ribuan suspek pada 2026, DInkes Jabar menegaskan imunisasi campak bukan sekadar program rutin, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi generasi muda.

"Makanya, masyarakat ayo lakukan imunisasi campak, sayang anaknya kalau tidak diimunisasi lengkap. Malah kalau tidak imunisasi mungkin tadi bertambah parah dan jangan remehkan sakit campak. Jadi mohon masyarakat tidak menolak imunisasi, supaya penyakit campak ini tidak ada," tandasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti