Bromo Menghitam, Alam Menanti Sentuhan Hujan

KOBARAN api menghitamkan Bromo. Di bencana itu, para petugas terus berjuang menyelamatkan alam.

Bromo Menghitam, Alam Menanti Sentuhan Hujan
PEMBASAHAN AREA: Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengulurkan selang air untuk melakukan pembasahan area di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Langkah Munawi terhenti sejenak di lereng Gunung Bromo. Di hadapannya, warna hijau yang biasa memenuhi kawasan itu telah berganti hitam. Semak dan pepohonan hangus. Abu beterbangan bersama pasir ketika angin datang menerpa.

Tak banyak waktu untuk menikmati pemandangan yang berubah itu. Sebagai relawan Masyarakat Peduli Api (API), Munawi tahu, bara yang terlihat kecil bisa kembali menjadi kobaran besar. Dia kembali bergerak.

Medan terjal menjadi salah satu tantangan paling berat dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). 

Ketika api muncul di tebing, petugas tak bisa sekadar berjalan mendekat. Mereka harus berhati-hati, mencari pijakan, bahkan merangkak agar dapat menjangkau titik api.

"Tapi ini sudah tugas, jiwa saya terpanggil untuk alam," ujar Munawi, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (11/8).

Pria 42 tahun itu sudah terbiasa dengan medan berat. Namun kebakaran yang berlangsung berhari-hari membuat pekerjaannya semakin menguras tenaga. Sejak Senin (3/8) hingga Senin (10/8), api terus membakar sejumlah kawasan Bromo. Luas area terdampak pun bertambah dari hari ke hari.

Data terakhir pada Senin (10/8) malam mencatat 742,70 hektare kawasan terdampak. Api menjalar dari Blok Bantengan sebagai titik awal, kemudian meluas ke Watu Gede, Blok Jantur, B29 hingga Bukit Dingklik.

Bagi Munawi, angka itu bukan sekadar luasan yang tercatat dalam laporan. Setiap hektare menyimpan vegetasi yang hangus dan medan baru yang harus dijangkau.

Angin menjadi lawan yang sulit ditebak. Tiupannya dapat membuat bara berpindah dan memunculkan titik api baru. Api yang semula berada di kawasan tebing bahkan sempat menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger selebar sekitar 18 meter dan membakar rerumputan savana pada Sabtu (8/8) malam.

Karena itu, pekerjaan para petugas tidak berhenti ketika kobaran api mulai mengecil. Mereka harus memastikan bara benar-benar mati dan melakukan pembasahan di kawasan bekas terbakar agar api tidak kembali menyala.

Munawi dan petugas lainnya bekerja bersama tim gabungan dari Balai Besar TNBTS, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta para relawan.

Sirene kendaraan pemadam terdengar bersahutan. Truk pemadam bergerak keluar-masuk kawasan. Petugas membawa peralatan, menyusuri medan, memantau titik api, sekaligus memastikan kebutuhan logistik tetap tersedia.

Pemadaman dilakukan dari darat dan udara. Selain penyemprotan manual dan armada pemadam, BPBD Jawa Timur mengerahkan drone water spray berkapasitas sekitar 150 liter air untuk menjangkau bagian lereng yang sulit.

BNPB juga mengirim dua helikopter pengebom air. Masing-masing mampu membawa sekitar 1.000 liter air dalam sekali penerbangan.

Namun bagi Munawi, teknologi hanyalah salah satu bagian dari perjuangan. Pada akhirnya, ada kaki yang harus menapaki medan terjal dan ada tubuh yang harus berhadapan langsung dengan panas serta asap.

Di sela tugas itu, ada satu hal yang terus dia bawa: doa keluarga. Keluarga Munawi berada jauh dari lereng Bromo. Mereka hanya bisa menunggu kabar dan menitipkan doa agar ia selalu diberi keselamatan. Doa itu menjadi tenaga tambahan bagi Munawi setiap kali kembali menuju kawasan terbakar.

Sementara Munawi dan petugas lainnya berjibaku, wisatawan tak lagi memenuhi jalur-jalur menuju Bromo. Seluruh pintu masuk kawasan Gunung Bromo ditutup sejak akhir pekan. 

Akses Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang dihentikan sementara.

Kawasan wisata yang biasanya dipenuhi kendaraan dan wisatawan kini lebih banyak diisi suara sirene serta aktivitas petugas.

Dari kejauhan, Bromo tampak berbeda. Hamparan yang biasanya menjadi daya tarik wisata berubah menjadi bentang hitam.

Debu dan sisa vegetasi beterbangan ketika angin berembus. Pemandangan itu terlihat jelas dari Jalur Lingkar Kaldera Tengger, terutama di sekitar Watu Gede yang menjadi salah satu kawasan terdampak.

Kebakaran juga menghadirkan kekhawatiran lain. Bukan hanya tentang kerusakan kawasan, tetapi juga keselamatan mereka yang berada di garis depan.

Pemerintah membentuk Satuan Tugas Penanganan Kebakaran TNBTS untuk memperkuat koordinasi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahkan mendatangi lokasi pada Minggu (9/8) untuk memantau penanganan.

Sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan dan diserahkan kepada aparat penegak hukum.

Di tengah kebakaran yang belum sepenuhnya reda, dukungan masyarakat mengalir melalui media sosial.

Foto dan video para petugas yang bekerja di tengah asap dan panas dibagikan berulang kali. Namun yang lebih banyak terlihat adalah doa.

"Semoga api segera padam. Semoga Bromo kembali hijau. Semoga para petugas pulang dengan selamat," begitu komentar-komentar di media sosial.

Bagi Munawi, harapan terakhir itulah yang paling penting. Sebab setiap kali meninggalkan rumah menuju kawasan terbakar, ada keluarga yang menunggu kepulangannya.

Dia mungkin tidak tahu kapan Bromo kembali menghijau. Dia juga tidak tahu berapa lama lagi harus menyusuri lereng dan memadamkan bara. Tetapi satu hal yang dia tahu: selama api masih menyala, dia akan tetap bergerak.

"Tapi ini sudah tugas, jiwa saya terpanggil untuk alam." (gin)


Editor : Inilahkoran