Curhat Buruh Pembakaran Batu Kapur di Cipatat, Anak Sekolah hingga Istri yang akan Melahirkan

Acep Dedi salah seorang buruh tambang batu kapur asal Kampung Cabe Areuy, Desa Cirawamekar, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini tengah dihantui rasa cemas dan khawatir.

Curhat Buruh Pembakaran Batu Kapur di Cipatat, Anak Sekolah hingga Istri yang akan Melahirkan
Acep Dedi salah seorang buruh tambang batu kapur asal Kampung Cabe Areuy, Desa Cirawamekar, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini tengah dihantui rasa cemas dan khawatir.

INILAHKORAN, Ngamprah - Acep Dedi salah seorang buruh tambang batu kapur asal Kampung Cabe Areuy, Desa Cirawamekar, Kecamatan cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini tengah dihantui rasa cemas dan khawatir.

Pasalnya, Acep merupakan satu dari puluhan ribu buruh tambang di wilayah Kecamatan cipatat dan Padalarang yang terancam kehilangan pekerjaan sebagai imbas dari penutupan belasan perusahaan tambang yang rencananya bakal dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kebijakan tersebut dilakukan usai Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat menemukan adanya 176 titik tambang ilegal di wilayah Jawa Barat dan 14 pertambangan di antaranya berada di Bandung Barat.

Imbasnya, para pelaku UMKM tambang di Kecamatan cipatat dan Padalarang, KBB menjerit lantaran keterbatasan distribusi bahan batu kapur atau gamping yang kian terbatas. Sehingga, sebagian besar perusahaan pengolah batu kapur atau gamping terancam gulung tikar.

"Warga di sini mayoritas hidupnya dari tambang batu kapur," kata Acep kepada wartawan.

"Jadi kalau tambangnya ditutup, kami yang di bagian pembakaran juga langsung terdampak. Bahan baku nggak ada, pabrik pasti tutup,” sambungnya.

Acep mengaku sudah bertahun-tahun menggantungkan hidup sebagai buruh tambang batu kapur. Menurutnya, upah harian yang diterimanya digunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga.

"Upahnya untuk makan sehari-hari, pendidikan anak, hingga cicilan rumah," sebutnya.

Bahkan, ungkap Acep, kondisi istrinya yang tengah hamil tujuh bulan membuat situasinya kian berat lantaran membutuhkan biaya persalinan dalam waktu dekat.

“Anak baru satu, istri lagi hamil tujuh bulan. Kalau pabrik benar-benar tutup, saya nggak tahu harus cari nafkah dari mana. Biaya lahiran sekarang mahal, belum lagi buat kebutuhan lain,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Acep, tempat dirinya bekerja saat ini, yakni pembakaran kapur dinilai lebih stabil dibanding pekerjaan sebelumnya di sektor bangunan. 

Tak cuma itu, jarak antara tempat bekerja dan rumahnya yang tak terlalu jauh membuatnya bisa tetap bersama dengan keluarganya. Namun, keputusan penutupan tambang tersebut membuatnya bingung.

“Sempat kerja di proyek bangunan, tapi di sini lebih nyaman. Nggak harus merantau. Tapi sekarang saya bingung, nggak punya keahlian lain,” imbuhnya.

Selain Acep, kekhawatiran yang sama juga turut dirasakan 12 rekan kerjanya di pabrik pembakaran batu kapur. Menurutnya, hampir setiap hari para pekerja saling curhat soal nasib mereka. 

Bahkan, sang istri mulai khawatir dan terus bertanya mengenai masa depan keluarga mereka.

“Tabungan juga sudah nggak ada. Yang kemarin-kemarin dipakai buat kebutuhan harian. Istri tiap hari nanya, ‘Kalau benar pabrik ditutup, kita gimana?’ Saya sendiri bingung mau jawab apa,” tuturnya.

Acep pun berharap pemerintah tak hanya fokus pada sisi regulasi dan lingkungan semata, namun juga mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar tambang

"Intinya kami minta solusi konkret bagi para pekerja terdampak. Kalau memang harus ditutup, tolong siapkan jalan keluar buat kami," ujarnya.

"Jangan cuma diumumkan tutup, tapi kami dibiarkan cari sendiri. Ini menyangkut hidup banyak orang,” tandasnya.*** 


Editor : JakaPermana