Dari Dapur ke Lingkungan, Warga Kota Tasikmalaya Diajak Sulap Sampah jadi Bernilai

Kesadaran mengelola sampah dari tingkat rumah tangga terus digencarkan di Kota Tasikmalaya. Rumah Eco Enzyme dan Kompos milik Deviani sebagai tempat edukasi.

Dari Dapur ke Lingkungan, Warga Kota Tasikmalaya Diajak Sulap Sampah jadi Bernilai
Menurut Devi, keberhasilan pembuatan eco enzyme dari sampah sangat bergantung pada kualitas bahan yang digunakan. Dia mengingatkan, limbah yang sudah membusuk sebaiknya tidak digunakan dalam proses fermentasi. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Kesadaran mengelola sampah dari tingkat rumah tangga terus digencarkan di Kota Tasikmalaya. Salah satu upaya nyata terlihat dalam kegiatan edukasi yang berlangsung di Rumah Eco Enzyme dan Kompos milik Deviani, di kawasan Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. 

Kegiatan tersebut menjadi wadah pembelajaran langsung bagi warga untuk mengolah limbah rumah tangga agar lebih bermanfaat. Program terselenggara berkat kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya. Berbeda dari sosialisasi pada umumnya, pendekatan yang digunakan lebih menitikberatkan pada praktik sehari-hari. 

Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga langsung mencoba memilah sampah dan mengolah limbah organik menjadi kompos serta eco enzyme.

Dalam pelatihan itu, Deviani yang akrab disapa Devi memaparkan proses pembuatan eco enzyme secara bertahap. Ia menekankan pentingnya menggunakan bahan organik yang masih segar. Limbah tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dicampur dengan gula dan air, lalu difermentasi selama kurang lebih tiga bulan.

Menurut Devi, keberhasilan pembuatan eco enzyme dari sampah sangat bergantung pada kualitas bahan yang digunakan. Dia mengingatkan, limbah yang sudah membusuk sebaiknya tidak digunakan dalam proses fermentasi.

“Kalau sudah busuk lebih baik dijadikan kompos. Untuk eco enzyme harus dari bahan segar, dicuci bersih, lalu difermentasi agar bakteri patogen bisa diminimalkan,” jelasnya di hadapan peserta.(13/4/2026).

Eco enzyme sendiri merupakan cairan hasil fermentasi yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari pembersih alami hingga mendukung kebutuhan pertanian. Melalui pelatihan ini, warga tidak hanya belajar mengurangi sampah, tetapi juga memperoleh alternatif produk ramah lingkungan pengganti bahan kimia.

Selain itu, limbah organik yang tidak dapat difermentasi tetap dimanfaatkan melalui pengolahan kompos. Dengan cara ini, hampir seluruh sampah rumah tangga bisa diolah, sehingga hanya menyisakan residu yang benar-benar tidak dapat digunakan.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya Feri Arif Maulana menegaskan, sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya masih memiliki potensi untuk diolah. Ia mendorong masyarakat agar mulai memilah sampah sejak dari rumah.

“Sampah organik bisa dijadikan kompos, eco enzyme, atau bahkan untuk budidaya maggot. Sementara sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah. Jadi yang dibuang ke TPA hanya sisa akhirnya saja,” ujarnya.

Dia menilai, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci dalam menekan volume sampah perkotaan. Jika pengelolaan dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga, dampaknya akan signifikan bagi lingkungan.

Kegiatan edukasi di ruang sederhana seperti ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Dengan pendekatan yang mudah dipahami dan langsung dipraktikkan, masyarakat didorong untuk lebih aktif dalam mengelola sampahnya sendiri.

Di tengah meningkatnya produksi sampah di perkotaan, model edukasi berbasis praktik ini menjadi solusi alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberdayakan warga untuk menjadi bagian dari perubahan.


Editor : Doni Ramdhani