Jeritan Buruh Pengolah Batu Kapur di Cipatat, Dilanda Kebingungan karena Terancam Kehilangan Pekerjaan
puluhan pekerja tambang di Kampung Cisaladah, RT03/10 Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terancam kehilangan pekerjaannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - "Pak Dedi, Pak Dedi, tong ditutup tambang teh urang rek gawe naon," teriak lantang puluhan pekerja tambang di Kampung Cisaladah, RT03/10 Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggema di tengah terik matahari yang menyengat.
Mereka menjerit lantaran hari ini merupakan hari terakhir mengolah dan memproduksi batu kapur atau gamping sebagai bahan baku campuran produk untuk berbagai industri di berbagai wilayah.
Nasib kehilangan mata pencaharian itu harus mereka hadapi usai Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup sebagian besar perusahaan tambang di wilayah Kecamatan Cipatat dan Padalarang lantaran disebut-sebut tak memiliki izin.
Bingung dan tak tahu harus melakukan apa, satu-satunya mata pencaharian yang mereka jadikan tumpuan untuk menopang kehidupan mereka terancam gulung tikar.
Meski tak seberapa, namun upah yang didapat dari hasil memikul beban kiloan batu kapur yang mereka produksi sehari-hari bisa sedikit mengganjal perut diri dan keluarganya.
Suhendar (50) salah satunya, pria paruh baya ini sudah 11 tahun bekerja sebagai buruh yang mengolah batu kapur untuk menjadi bahan baku campuran di CV SLJP di Kampung Cisaladah RT03/10 Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.
Dengan wajah lelah dan penuh debu, Suhendar hanya berharap tempat di mana dirinya bekerja tak gulung tikar. Sebab, ada istri dan dua anaknya yang masih membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dia tak peduli meski harus berjalan jauh dari rumah ke tempatnya bekerja. Terpenting, Suhendar hanya ingin bisa bertanggungjawab menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.
"Saya tinggal di Kampung Cihalimun RT03/22, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat dan udah 11 tahun bekerja jadi buruh tambang," kata Suhendar saat ditemui di lokasi tempatnya bekerja, Jumat 27 Juni 2025.
Suhendar menuturkan, dirinya harus berjalan kaki selama 1,5 jam dari rumahnya menuju tempat bekerja. Bahkan, jika hujan dirinya membutuhkan waktu minimal 2 jam.
"Lewat jalan setapak dan lewat beberapa gunung, seperti Gunung Cihalimun, Bojong Honje dan Pumarin," sebutnya.
Suhendar mengatakan, pekerjaan yang dlakoninya itu sudah berlangsung secara turun-temurun. Termasuk, anak pertamanya juga bekerja di bidang yang sama namun berbeda tempat.
"Orang tua saya juga dulu sama kerja di tambang. Saya punya tiga anak, dan salah satunya udah berkeluarga dan kerja jadi buruh tambang juga," katanya.
Suhendar berharap tempat di mana dirinya bekerja tidak ditutup. Sebab, jika ditutup dirinya bingung mencari makan lantaran tak punya penghasilan lagi.
"Ini satu-satunya mata pencaharian saya dan sekarang produksinya udah menurun. Tapi saya belum kepikiran mau ke mana kalau enggak ada kerjaan," ucapnya.
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan Erpin (27) warga Kampung Sasak Seng RT04/06, Desa Cirawa, Kecamatan Cipatat. Tak hanya urusan perut, dia juga khawatir anak-anaknya tak bisa melanjutkan sekolah.
"Kalau saya dari rumah paling setengah jam karena pake motor. Kalau jalan kaki sekitar 2,5 jam," kata Erpin.
Erpin menuturkan, pekerjaan sebagai buruh pengolah batu kapur itu berawal dari orangtuanya. Namun, pendidikan yang ditempuhnya hingga jenjang SMA tak membuatnya mampu mendapat pekerjaan dengan mudah.
Alhasil, Erpin pun mengikuti jejak orangtuanya bekerja sebagai buruh pengolah batu kapur di Kampung Cisaladah.
"Jadi orangtua saya dulu kerja di sini. Sempat dulu coba ngelamar, tapi ijazahnya gak kepake," katanya.
Erpin mengaku sudah tujuh tahun bekerja sebagai buruh pengolah batu kapur dan menjadi satu-satunya sumber mata pencahariannya.
"Ini satu-satunya sumber mata pencaharian, kalau ini tutup bingung juga sedangkan ijazah juga udah gak ngaruh," ujarnya.
"Kalau bisa jangan ditutup karena kerjaan satu-satunya," harapnya.
Erpin mengungkapkan, dirinya masih memiliki dua orang anak yang masih sekolah di jenjang SD dan SMP.
"Yang satu baru masuk SMP sekarang. Kalau enggak ada kerjaan, kalau ditutup anak juga enggak bisa lanjut sekolah," ungkapnya.
Pelaku UMKM olahan batu kapur asal Kampung Cisaladah RT03/10 Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Iyan Sopian (36) mengaku kebingungan untuk mendapatkan bahan baku batu kapur atau gamping untuk diolah menjadi berbagai campuran produk.
"Dengan kondisi seperti ini, saya bertanya kepada karyawan apakah ada opsi mau kerja di mana kalau ini tutup," kata Iyan.
"Saya tanya itu, karena saya juga bingung kalau pabrik ditutup mereka (karyawan) mau kerja apa. Sementara, mereka juga sebagian besar terbentur persoalan pendidikan dan keahlian," sambungnya.
Rata-rata, sebut Iyan, karyawannya hanya lulusan SD dan banyak juga yang tidak bersekolah, sehingga sebagian dari mereka itu buta huruf.
"Bingung harus gimana. Kalaupun ada aturan pasti kita ikuti, tapi kalau seandainya ditutup itu berat terlebih target pasar produk kita itu untuk campuran pakan," ungkapnya.
Iyan mengaku keberatan dengan langkah penutupan tambang di wilayahnya lantaran imbasnya juga dirasakan masyarakat. Termasuk, pelaku usaha yang menjadikan batu gamping sebagai campuran untuk produk-produknya.
"Enggak cuma kita, yang lain juga kena dampak. Kita keberatan, ini usaha komoditas dan semua saling bergantung mulai dari kakek sampai cucu, termasuk pekerja," sebutnya.
"Kalau untuk kesejahteraan masih jauh, tapi minimal cukup untuk makan mereka," tambahnya.*** (agus satia negara)
Editor : Firda Rachmawati


