Imbas Polusi Industri Batu Kapur, 378 Orang di Padalarang-Cipatat Diduga Terinfeksi T

Sebanyak 2.870 warga di Kecamatan Padalarang dan Cipatat telah mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Imbas Polusi Industri Batu Kapur, 378 Orang di Padalarang-Cipatat Diduga Terinfeksi T

INILAHKORAN.ID  - Sebanyak 2.870 warga di Kecamatan Padalarang dan Cipatat telah mengikuti program cek kesehatan gratis (CKG) yang digelar khusus untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat dan pekerja yang selama bertahun-tahun tinggal dan bekerja di sekitar kawasan industri pengolahan batu kapur

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Lia N. Sukandar mengatakan, data tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan per akhir Juli 2026 yang melibatkan empat puskesmas yakni Sumur Bandung, Jaya Mekar, Tagog Apu, dan Cipatat, serta didukung Provinsi Jawa Barat melalui penyiapan mobil X-ray guna memeriksa kondisi paru secara menyeluruh. 

“Alhamdulillah, Provinsi Jawa Barat juga memberikan bantuan kepada kami dengan menyiapkan mobil X-ray untuk pemeriksaan kesehatan paru bagi pekerja dan masyarakat sekitar,” kata Lia, Sabtu (15/8/2026).

Dari total 2.974 kunjungan pelayanan yang tercatat hingga 31 Juli 2026, ungkap Lia, terkonfirmasi 2.870 orang atau setara 96,5 persen benar-benar mengikuti pemeriksaan lengkap. 

"Hasil sementara menunjukkan pola gangguan kesehatan yang cukup mengkhawatirkan dan berkaitan erat dengan saluran pernapasan, kelompok yang paling rentan terkena dampak partikulat debu dari aktivitas penambangan dan pengolahan batu kapur," ungkapnya.

Temuan terbanyak tercatat 378 orang atau sekitar 13,2 persen peserta masuk kategori terduga atau suspek Tuberkulosis (TB) berdasarkan bayangan rontgen dan pemeriksaan fisik. 

Selain itu tercatat 267 orang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), disusul temuan terduga Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hipertensi, dan gula darah tinggi," ujarnya. 

Lia menegaskan status suspek belum berarti pasti positif TB, seluruhnya masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis definitif sebelum diobati.

Terlepas dari tingginya angka gangguan paru, Dinkes KBB menyatakan belum dapat menarik kesimpulan langsung bahwa penyakit tersebut semata-mata disebabkan oleh debu pabrik kapur. 

“Bisa iya dan bisa tidak. Untuk memastikan lebih lanjut harus dilihat lagi. Pabrik-pabrik tersebut sudah berdiri lama sehingga ada kemungkinan pekerja memiliki kontak dalam jangka waktu yang panjang,” ucapnya.

Khusus kasus TB, sambung Lia, penularan juga dapat terjadi melalui udara di lingkungan rumah dan tempat tinggal, sehingga seluruh anggota rumah tangga dari kasus suspek juga perlu diskrining. 

Namun tingginya angka gangguan paru di kawasan yang sama dengan aktivitas industri pengolahan batu kapur yang berlangsung puluhan tahun tetap menjadi sinyal penting yang menuntut kajian epidemiologis lebih mendalam, mencakup lama paparan, jarak rumah ke sumber debu.

"Termasuk pengendalian polusi udara yang diterapkan masing-masing perusahaan," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti