Malaysia Jadi Target Ekspor Baru Jabar, Pelaku Usaha Diminta Ubah Strategi Produk
Pasar Malaysia mulai dibidik serius sebagai tujuan ekspor baru produk unggulan Jawa Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pasar Malaysia mulai dibidik serius sebagai tujuan ekspor baru produk unggulan Jawa Barat.
Namun, peluang itu tidak datang tanpa syarat. Produk kopi, teh, dan kakao asal Jabar dituntut lebih adaptif terhadap selera konsumen, sekaligus memenuhi standar keamanan pangan yang makin ketat.
Dalam Webinar Road to West Java International Investment, Trade, Tourism and Expo (WIITEX) 2026 bertajuk “Produk Teh, Kopi dan Kakao di Malaysia bersama Atase Perdagangan Kuala Lumpur” yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat baru-baru ini, terungkap tren meningkatnya permintaan produk makanan dan minuman Indonesia di Malaysia dalam lima tahun terakhir.
Pasar negara tersebut ternyata memiliki preferensi yang tidak bisa dipandang sederhana. Konsumen Malaysia kini cenderung memilih produk rendah gula, rendah lemak, dan rendah kalori.
Untuk produk kopi, pasar lebih menyukai racikan berbasis susu, gula, atau krimer ketimbang kopi hitam murni. Sedangkan pada produk teh, varian teh susu atau teh tarik masih menjadi pilihan dominan.
Sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melihat peluang ekspor tersebut sebagai momentum memperkuat kontribusi perdagangan luar negeri daerah. Jawa Barat saat ini masih menjadi penyumbang ekspor terbesar nasional dengan pangsa sekitar 13,65 persen.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag Jawa Barat, Mochamad Lukmanul Hakim mengatakan, sektor manufaktur hingga komoditas perkebunan masih menjadi tulang punggung ekspor Jabar, termasuk kopi, teh, dan kakao yang memiliki basis produksi cukup besar.
“Produk Jabar masih diminati untuk pasar luar negeri dan memiliki peluang besar di sektor manufaktur. Kami juga berharap produk dari pelaku usaha kecil menengah dapat berperan bersama industri besar dalam memperkuat ekspor Jabar,” ujar Lukman.
Data Disperindag menunjukkan Jawa Barat memiliki potensi perkebunan kopi seluas 55.876 hektare, teh mencapai 76.568 hektare, dan kakao sekitar 5.537 hektare. Besarnya potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya terkonsolidasi menjadi kekuatan ekspor bernilai tambah tinggi.
Sebab itu, Disperindag menyiapkan WIITEX 2026, sebagai panggung mempertemukan produk unggulan Jabar dengan calon pembeli internasional.
“Kami berharap Atase Perdagangan Kuala Lumpur dapat turut mempromosikan kegiatan WIITEX untuk menjaring calon buyer yang bisa berpartisipasi,” katanya.
Atase Perdagangan Kuala Lumpur, Malaysia, Aziza Rahmaniar Salam menilai, peluang produk Indonesia tetap terbuka lebar, tetapi pelaku usaha harus mampu membaca karakter pasar secara tepat.
“Pasar Malaysia memiliki preferensi yang cukup spesifik. Produk yang inovatif dan berbeda akan lebih mudah dilirik pasar. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memperhatikan diferensiasi produk,” katanya.
Menurutnya, tantangan lain yang tak kalah penting adalah soal regulasi. Pemerintah Malaysia kini memperketat standar keamanan pangan bagi produk impor.
Artinya, pelaku usaha Indonesia harus memastikan produknya telah memenuhi persyaratan sertifikasi internasional sebelum masuk pasar.
Sertifikasi seperti Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), Good Manufacturing Practice (GMP), dan Food Safety System Management (FSSM) kini menjadi aspek penting dalam proses penetrasi pasar Malaysia.
Tak cukup hanya unggul dari sisi produk, Aziza juga menekankan pentingnya menggandeng mitra lokal atau distributor di Malaysia agar proses distribusi dan pemahaman pasar berjalan lebih efektif.
“pelaku usaha Indonesia juga perlu memiliki mitra lokal atau distributor di Malaysia, untuk membantu memahami pasar dan mempermudah distribusi produk,” tandasnya.***
Editor : JakaPermana


