Pelaksanaan SPMB 2026 di SMAN 14 Bandung Tidak Ada Kendala Krusial
Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMAN 14 Bandung, mulai dari Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) hingga tahap 1, berlangsung relatif lancar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMAN 14 Bandung, mulai dari Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) hingga tahap 1, berlangsung relatif lancar.
Meski di awal sempat ada sejumlah aduan dari calon murid maupun orang tua, seluruh persoalan yang muncul dapat ditangani tanpa menimbulkan kendala yang berarti terhadap proses penerimaan peserta didik baru.
Wakil Kepala Bidang Humas SMAN 14 Bandung Irfan Muhafidin mengatakan, aduan yang diterima sekolah pada awal pelaksanaan umumnya berkaitan dengan kendala teknis sistem serta informasi mengenai ketersediaan pilihan sekolah dalam aplikasi pendaftaran.
"Untuk aduan lumayan banyak, apalagi di PCMB awal itu terkait sistem sedikit error. Selain itu ada juga aduan masyarakat yang, kenapa sih (pilihan) SMAN 14 belum muncul di hari pertama," kata Irfan saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena proses sinkronisasi antara kuota sekolah dengan sistem pendaftaran belum sepenuhnya selesai. Karena itu, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan penyesuaian agar data yang ditampilkan sesuai dengan kapasitas yang tersedia.
"Sebenarnya kami bisa jelaskan itu kenapa belum muncul, karena pada dasarnya ajuan antara kuota kami dengan sistem itu belum sinkron," ujarnya.
Dia menjelaskan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan jumlah peserta didik yang diterima tetap sesuai dengan daya tampung sekolah.
"Akhirnya ketika belum sinkron, ada diskusi antara kami dengan pihak manajemen sekolah untuk disesuaikan terlebih dahulu. Kenapa belum sinkron? Khawatirnya malah nambah siswa sementara kapasitas sekolah kami juga kan terbatas," tuturnya.
Selain persoalan teknis, pihak sekolah juga menemukan sejumlah kasus kesalahan dalam pemilihan jalur pendaftaran. Beberapa calon murid memasukkan prestasi non-akademik melalui jalur kejuaraan akademik sehingga tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.
"Contohnya dia jaipong atau pencak silat, itu harusnya ke kejuaraan non-akademik. Sedangkan dia milihnya kejuaraan akademik," kata Irfan.
Meski demikian, ia memastikan tidak ada kendala yang bersifat krusial selama pelaksanaan SPMB di SMAN 14 Bandung.
"Kalau krusial banget sih, enggak. Alhamdulillah di kami bisa teratasi dengan baik," ucapnya.
Terkait daya tampung, SMAN 14 Bandung pada tahun ajaran 2026/2027 menyediakan 11 rombongan belajar dengan total kapasitas 462 siswa. Selain kuota reguler, sekolah tersebut juga mendapat tambahan kuota sebagai sekolah penyangga untuk Kecamatan Batununggal.
"Untuk daya tampung di kami itu sekarang 11 kelas. Jadi 42 dikali 11. Itu regulernya cuma 36, karena kita termasuk sekolah penyangga, jadi ditambah 6 dari penyangga," jelasnya.
Irfan menambahkan, sebagian besar kuota telah terisi pada. Hingga saat ini, sebanyak 265 calon murid telah terpetakan diterima di SMAN 14 Bandung lewat PCMB.
"Untuk yang sudah terpetakan itu, totalnya 265 orang," katanya.
Sementara pada Tahap 1 SPMB, jumlah pendaftar relatif sedikit karena kuota yang tersedia terbatas. Saat itu hanya tersisa sembilan kursi pada jalur kejuaraan akademik.
"Di kami kemarin mendaftar ada 3, tapi tidak memenuhi kriteria. Akhirnya mereka mengajukan kami tolak pendaftarannya," ungkap Irfan.
Ia mencontohkan, terdapat calon murid yang mendaftarkan prestasi futsal melalui jalur akademik, padahal seharusnya masuk kategori non-akademik.
Untuk Tahap 2, SMAN 14 Bandung masih memiliki sejumlah kuota yang dapat diakses melalui jalur domisili dan afirmasi. Pada jalur domisili penyangga masih tersedia 42 kursi, sedangkan jalur afirmasi masih menyisakan kuota bagi beberapa kategori peserta didik.
Antaranya untuk Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM) 15 orang, Murid Berkebutuhan Khusus 5 orang, serta Cerdas Istimewa Bakat Istimewa (CIBI) 18 orang. Sedangkan jalur domisili umum di wilayah sekolah telah terpenuhi.
Menyikapi pelaksanaan SPMB tahun ini, Irfan berharap pengembangan sistem ke depan dapat didahului dengan sosialisasi dan uji coba yang lebih matang. Menurutnya, sekolah merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat saat pelaksanaan penerimaan murid baru berlangsung.
"Jadi adanya uji coba menurut kami, kendala-kendala yang mungkin tidak terpikirkan oleh pengembang, atau tidak terpikirkan oleh penyusun kebijakan, itu bisa (teratasi)," katanya.
Ia menilai, masukan dari sekolah di lapangan penting untuk menyempurnakan sistem karena setiap daerah memiliki karakteristik dan kondisi yang berbeda.
"Kalau dari lapangan, mungkin di Bandung seperti ini, di Cimahi berbeda lagi, kulturnya seperti apa, yang lebih tahu kondisinya adalah kondisi di lapangan, khususnya yang garda terdepan di SPMB ini adalah sekolah," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

