Sikap Kami: Survei Superman
SURVEI Litbang Kompas bisa dipandang dari berbagai sudut. Salah satunya ini: Jawa Barat baru punya superman, belum superteam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
survei litbang kompas bisa dipandang dari berbagai sudut. Salah satunya ini: Jawa Barat baru punya superman, belum superteam.
Sebagai sebuah karya intelektual, setiap hasil survei patut diterima dengan tangan terbuka. Persoalannya adalah apakah hasil survei selalu linier dengan fakta yang ada, kadang-kadang tidak juga. Di panggung politik, bukan sekali-dua lembaga survei gagal memetakan kekuatan kandidat.
Maka, selain menerima dengan tangan terbuka, hasil survei litbang kompas juga patut dikritisi. Bukan soal surveinya, melainkan gejala yang terjadi di masyarakat.
Tingginya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Jawa Barat, dedi mulyadi, mencengangkan. Sampai 97,2%. Rasanya belum ada survei kepuasan publik yang setinggi itu.
Tapi, mari kita urai. Tingginya kepuasan publik terhadap Dedi, ternyata tak selaras dengan hal serupa terhadap Pemprov Jawa Barat. Angka beda jauh. Pada survei sebelumnya yang diselenggarakan Indikator Politik, kepuasan publik terhadap kinerja Pemprov Jabar di beberapa sektor bahkan di kisaran 50%.
Maka, salah satu kesimpulan yang bisa dirajut: sebagai kepala pemerintahan Dedi belum mampu mengerek keberhasilan terhadap kinerja Pemprov Jabar. Artinya, di Pemprov Jabar selama ini hanya ada superman, bukan superteam.
Tingginya kepuasan terhadap Dedi, analisa kita, lebih disebabkan faktor personalitasnya. Selain kerap bergerak sendiri, dia juga sangat populer. Terhadap figur dengan popularitas tinggi, tingkat kesukaan akan berpengaruh terhadap tingkat penerimaan, bahkan kepuasan.
Jika tingkat kepuasan terhadap kinerja Dedi setinggi itu, bagaimana kita hendak menyelaraskan dengan mandegnya transportasi umum, garingnya infrastruktur, dan sektor ekonomi yang merisaukan?
Dari sektor ketenagakerjaan, Jawa Barat terhitung paling bermasalah. Jumlah pengangguran terbanyak di Indonesia. Angkanya mencapai 1,8 juta. Pembukaan lapangan kerja juga mandeg. Bahkan yang ada justru meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tutupnya sejumlah industri.
Pendidikan juga masih bermasalah. Kesehatan apalagi. Jawa Barat masih menjadi provinsi dengan bayi stunting terbanyak di Indonesia. survei Status Gizi Indonesia 2024 mencatat ada 638 ribu balita stunting di Jawa Barat. Artinya, masih 16% di antara jumlah balita.
Jadi, dari mana kisah sukses Dedi hingga bisa menarik tingkat kepuasan publik? Kita menduga, baru pada tingkat remeh-temeh. Belum pada konsep besar bagaimana membangun Jabar dari berbagai sisi.
Tapi, kesuksesannya itu harus juga kita akui. Setidaknya, kepintarannya mengkomunikasikan apa yang dia lakukan, meski kadang-kadang juga terkesan lebay, membuat publik menyukainya sekaligus memberi manfaat bagi tingkat penerimaan masyarakat atas kinerjanya. (*)
Editor : Zulfirman

