BRT Bandung Raya Didanai World Bank, Pemkab Bandung Siapkan Tiga Terminal Utama

Proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di wilayah Kabupaten Bandung hingga kini masih menunggu rampungnya Detail Engineering Design (DED)

BRT Bandung Raya Didanai World Bank, Pemkab Bandung Siapkan Tiga Terminal Utama
Proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di wilayah Kabupaten Bandung hingga kini masih menunggu rampungnya Detail Engineering Design (DED)./istimewa

INILAHKORAN.ID– Proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya di wilayah Kabupaten Bandung hingga kini masih menunggu rampungnya Detail Engineering Design (DED) dari World Bank. Hal tersebut lantaran pembiayaan proyek transportasi massal tersebut sepenuhnya berasal dari Pemerintah Pusat yang didukung pendanaan World Bank.

Humas Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Eric Alam Prabowo, mengatakan Pemerintah Daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Bandung, memiliki kewajiban dalam penyediaan lahan untuk mendukung proyek tersebut.

“Untuk Kabupaten Bandung, kewajiban kami adalah menyiapkan lahan untuk tiga terminal dan dua depo BRT,” kata Eric kepada INILAHKORAN.ID Rabu 28 Januari 2026.

Eric menjelaskan, terminal BRT di Kabupaten Bandung seluruhnya akan memanfaatkan terminal yang sudah ada. terminal tersebut masing-masing berlokasi di Soreang, Banjaran, dan Majalaya. terminal Soreang akan menggunakan terminal eksisting, begitu pula terminal Banjaran dan Majalaya.

Sementara itu, untuk depo BRT, satu depo akan dibangun di Soreang di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Bandung yang berlokasi di belakang Gedung Baznas di Jalan Raya Otto Iskandar Dinata (Jalan Raya Gading Tutuka) Sedangkan depo lainnya berada di Majalaya, juga di atas lahan milik Pemkab Bandung yang berada di area terminal eksisting dekat Pasar Baru Majalaya.

Eric menambahkan, proyek BRT Bandung Raya terus dimatangkan untuk menjadi tulang punggung transportasi massal terintegrasi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Khusus di Kabupaten Bandung, direncanakan akan terdapat tujuh koridor BRT, tiga terminal, serta dua depo.

Adapun beberapa koridor yang direncanakan maupun melintasi wilayah Kabupaten Bandung di antaranya Majalaya–Baleendah–Leuwipanjang, Banjaran–Baleendah–BEC, Soreang–terminal Tegallega, serta Tegalluar–Stasiun Hall.

“Dari tujuh koridor tersebut, lima berakhir di Kabupaten Bandung dan dua lainnya melintas wilayah Kabupaten Bandung,” ujarnya.

Saat ini, dari tujuh koridor tersebut, empat koridor sudah berjalan. Tiga di antaranya merupakan layanan Trans Metro Pasundan (TMP), yakni Leuwipanjang–Soreang, Baleendah–BEC, dan Leuwipanjang–Baleendah. Sementara satu koridor lainnya adalah Dipatiukur–Jatinangor yang melintas di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Pemerintah Kabupaten Bandung berharap, kehadiran BRT Bandung Raya nantinya dapat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas, sekaligus mendorong masyarakat beralih ke transportasi massal.

“Jika moda transportasi massal ini nyaman, aman, dan biayanya terjangkau, kami optimistis masyarakat akan beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum,” katanya.***


Editor : JakaPermana