Talenta Muda Menantang Panggung Sains Dunia
PANGGUNG matematika dan sains dunia segera hadir di Depok. Sebanyak 63 siswa SD Indonesia siap beradu kemampuan dengan peserta dari berbagai negara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Gin Gin T.Ginulur
Enam puluh tiga siswa sekolah dasar bersiap membawa nama Indonesia ke panggung sains dan matematika dunia. Mereka akan bertemu ratusan siswa dari berbagai negara dalam International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 di Depok, Jawa Barat.
Sebanyak 32 siswa akan berlaga di bidang matematika, sementara 31 lainnya mengikuti kompetisi sains. Mereka merupakan siswa terpilih yang melewati proses seleksi dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Umum IMSO ke-23 sekaligus Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Raden Ridwan Hasan Saputra mengatakan para peserta dipilih melalui dua jalur, yakni peraih prestasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan seleksi mandiri yang diselenggarakan KPM.
Jalur OSN membawa siswa melewati kompetisi dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. Sementara seleksi KPM berlangsung dalam tiga tahapan, dua kali secara daring dan satu kali secara langsung.
Proses seleksi tidak berhenti pada kemampuan akademik. Penalaran, pemecahan masalah, eksplorasi matematika, eksperimen sains, hingga perilaku peserta turut menjadi pertimbangan.
“Kita ingin ini mewakili negara, jadi tidak hanya kepintaran, tetapi perilaku juga kita perhatikan,” kata Ridwan di Kota Bogor, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (29/9).
Para siswa tersebut akan betemu dengan 341 peserta lain dari 22 negara. Total 404 siswa dari 23 negara mengikuti IMSO ke-23, di antaranya China, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Kompetisi akan menguji kemampuan mereka melalui sejumlah tahapan. Peserta matematika menghadapi tiga sesi, yakni isian singkat, esai, dan eksplorasi. Sementara peserta sains mengikuti dua sesi teori dan satu sesi eksperimen.
Soal-soal yang diberikan dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi tetap disesuaikan dengan jenjang pendidikan dasar. Setiap negara mengusulkan soal untuk kemudian dikumpulkan dan dipilih oleh dewan juri.
“Kalau ada soal yang pernah keluar, tidak dipakai lagi,” ujar Ridwan. (gin)
Editor : Inilahkoran

