Transportasi Kota Bandung Mengarah ke Integrasi, Angkot Masih Jadi Tulang Punggung

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mendorong integrasi moda transportasi publik di tengah terbatasnya anggaran pembangunan. Angkutan kota (angkot) tetap akan menjadi tulang punggung transportasi di Kota Bandung, bersinergi dengan proyek nasional seperti Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rail Transit (LRT).

Transportasi Kota Bandung Mengarah ke Integrasi, Angkot Masih Jadi Tulang Punggung
Wakil Wali Kota Bandug Erwin

INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mendorong integrasi moda transportasi publik di tengah terbatasnya anggaran pembangunan. Angkutan kota (angkot) tetap akan menjadi tulang punggung transportasi di kota bandung, bersinergi dengan proyek nasional seperti Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rail Transit (LRT).

Wakil Wali kota bandung, Erwin menyatakan, integrasi merupakan kunci utama untuk menciptakan sistem transportasi yang efektif, efisien dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat urban masa kini.

"angkot akan tetap menjadi transportasi utama di Bandung. Kami sedang berusaha agar angkot bisa sinkron dengan BRT, dan LRT yang merupakan program pusat. Ini penting supaya transportasi publik kita bisa terintegrasi dengan baik," kata Erwin pada Selasa 5 Agustus 2025.

Menurut ia, upaya integrasi tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Melainkan juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi. Menurutnya, transformasi moda transportasi tidak boleh merugikan pihak-pihak yang selama ini menopang sistem angkutan terutama pengemudi dan pengusaha angkot.

"Kita harus hati-hati agar pengalihan moda transportasi ini tidak merugikan pengemudi angkot. Jadi, integrasi ini juga soal keseimbangan sosial dan ekonomi," ucapnya.

Namun kata ia, tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan anggaran daerah. Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota bandung sekitar Rp7,8 triliun, hampir 40 persen sudah dialokasikan untuk belanja pegawai. 

Hal ini menyulitkan pembiayaan proyek-proyek transportasi berskala besar seperti LRT dan kereta gantung. "Dari total APBD sekitar Rp7,8 triliun, hampir 40 persen sudah untuk belanja pegawai. Jadi, dana untuk proyek besar seperti kereta gantung atau LRT sangat terbatas," ujar dia.

Untuk mengatasi hal ini, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan investor baik dalam maupun luar negeri. Salah satu bentuk dukungan, datang dari pihak Korea Selatan yang telah menyatakan minat untuk membangun sistem kereta rel di Bandung.

"Investor, baik dari dalam maupun luar negeri sangat kami harapkan. Belum lama ini pihak Korea datang menawarkan kerja sama untuk proyek kereta rel. Kami siap dukung, asalkan tidak menggunakan dana APBD," jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga mengusulkan kebijakan baru untuk mendorong penggunaan transportasi umum khususnya di kalangan pelajar. Erwin menyebut, adanya rencana mewajibkan siswa SD hingga SMA menggunakan transportasi umum sebagai langkah strategis mengubah pola perilaku masyarakat.

"Nanti kita bisa buat aturan agar siswa SD sampai SMA wajib naik transportasi umum. Tujuannya supaya jalanan lebih tertib dan kemacetan bisa berkurang," tandas dia. *


Editor : Ahmad Sayuti