Diduga Lakukan Kekerasan Seksual, Unpar Berhentikan Dosen LB

Diduga melakukan kekerasan seksual, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memberhentikan satu dosen luar biasa (DLB).

Diduga Lakukan Kekerasan Seksual, Unpar Berhentikan Dosen LB

INILAHKORAN, Bandung - Diduga melakukan kekerasan seksual, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memberhentikan satu dosen luar biasa (DLB).

Pemberhentian dosen itu berawal dengan cuitan di media sosial X. Isi cuitan tersebut, menceritakan dosen di Unpar, berinisial SM,  diduga telah melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah korban.

Dari cuitan tersebut, pihak Unpar langsung memberhentikan SM yang merupakan dosen luar biasa pada semester genap 2023/2024 secara team teaching, untuk mata kuliah filsafat sosial dan politik.

SM pun sudah tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun, di lingkungan Unpar yang diselenggarakan baik secara daring maupun luring sejak 13 Mei 2024.

"Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan proses pemeriksaan dan proses pelaporan serta mencegah meluasnya dan pengulangan terjadinya perbuatan serupa. Dengan demikian, sejak tanggal tersebut, seluruh kegiatan yang dilakukan oleh yang bersangkutan (jika ada) di luar Universitas Katolik Parahyangan tidak terafiliasi dengan Universitas Katolik Parahyangan," tulis keterangan resmi Unpar dikutip, Rabu 15 Mei 2024.

Melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), pihak Universitas mengimbau semua pihak yang merasa menjadi korban untuk menyampaikan laporan melalui layanan pengaduan kekerasan seksual di lingkungan Unpar.

"Unpar akan terus mengawal kasus ini, sesuai dengan komitmen Unpar untukmenjamin kampus aman tanpa kekerasan seksual. Apabila diperlukan, Unpar juga akan memberikan pendampingan bagi sivitas akademika Unpar yang menjadi korban tindakan kekerasan seksual mencakup pemberian layanan konseling, layanan kesehatan, dan bantuan hukum," tulis keterangan Unpar.

Sementara itu, SM melalui akun media sosial X pribadinya sudah memberikan pernyataan atas kasus yang menimpanya.

SM mengakui perbuatannya serta meminta maaf telah mengirim pesan baik lewat WhatsApp maupun media sosial lainnya yang berisi pesan genit, firting, meminta foto diri (PAP), hingga ajakan bertemu di mana dalam kasus tertentu mengirim pesan mesum yang menyebabkan perasaan tdak nyaman dan bahkan trauma pada korban.

"Terkait postingan di X perihal kasus kekerasan seksual saat saya bekerja di T**kom (antara tahun 2013 - 2017), saya bersedia diperiksa oleh tim investigasi dan bekerjasama penuh mengikuti segala proses yang diperlukan,"

"Saya memohon maaf sebesar-besarnya pada para korban. Saya juga memohon maaf pada para pihak yang telah dirugikan akibat perbuatan saya ini, termasuk diantaranya teman-teman Kelas lsolasi. komunitas. jejaring para penerba toko buku. penyelenggara acara, kampus, dan pihak yang pernah dan sedang bekerjasama dengan saya," ungkapnya dalam pernyataannya di media sosial. (Cesar Yudistira)


Editor : Ahmad Sayuti