Lantaran Memecat Guru Honorer, Bima Arya Langsung Copot Kepala SDN Cibeureum 1 Kota Bogor

Kepala SDN Cibeureum 1 Kota Bogor Nopi Yeni dicopot dari jabatannya. Wali Kota Bogor Bima Arya mengambil tindakan tegas itu pada Rabu 13 September 2023. 

Lantaran Memecat Guru Honorer, Bima Arya Langsung Copot Kepala SDN Cibeureum 1 Kota Bogor
Bahkan, Wali Kota Bogor Bima Arya mendatangi langsung sekolah yang berlokasi di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan itu pada Rabu 13 September 2023. Bima menemui Nopi di SDN Cibeureum 1 Kota Bogor dan guru honorer Reza. (rizki mauludi)

INILAHKORAN, Bogor - Kepala SDN Cibeureum 1 Kota Bogor Nopi Yeni dicopot dari jabatannya. Wali Kota Bogor Bima Arya mengambil tindakan tegas itu pada Rabu 13 September 2023. 

Keputusan itu bermula ketika Nopi secara tiba-tiba memberhentikan guru honorer SDN Cibeureum 1 Kota Bogor bernama Mohamad Reza Ernanda. Nopi memberitahukan kepada Reza melalui surat yang ditulisnya pada Selasa 12 September 2023.

Dalam surat itu, Nopi memberhentikan Reza dengan alasan perbuatan ketidakpatuhan karena mengambil data pribadi WhatsApp miliknya sehingga menimbulkan konflik internal antara guru SDN Cibeureum 1 Kota Bogor dengan dirinya. 

Selain itu, Nopi juga beralasan Reza tidak memiliki loyalitas, integritas, dan nilai kepatuhan kepada kepala sekolah. Melalui surat itu Nopi memberhentikan Reza sejak Rabu 13 September 2023.

Alhasil, pemecatan itu pun mengundang penolakan dari wali murid dan para siswa. Mereka bahkan menggelar demo di sekolah meneriakkan nama Reza sembari mengacungkan poster-poster yang meminta guru honorer yang sudah mengabdi selama 4 tahun itu, tidak diberhentikan.

Bahkan, Wali Kota Bogor Bima Arya mendatangi langsung sekolah yang berlokasi di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan itu pada Rabu 13 September 2023. Bima menemui Nopi di SDN Cibeureum 1 Kota Bogor dan guru honorer Reza.

Bima menjelaskan, pemecatan tersebut berawal dari adanya dugaan pungli yang dilakukan oleh Nopi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2023. Dugaan pungli ini kemudian diinvestigasi oleh oleh Inspektorat Kota Bogor. Kemudian kepala sekolah memberhentikan salah seorang guru honorer karena dianggap tidak mematuhi kepala sekolah dan dianggap juga mengakses data pribadi dari WhatsApp kepala sekolah. 

"Kepala sekolah menduga Reza yang membuat aduan itu kemudian diberhentikan," ungkap Bima.

Bima menjelaskan, aduan itu disampaikan oleh warga kepada Pemkot Bogor. Bima menampik Reza yang membocorkan dugaan tindak pungli itu, dirinya memandang permasalahan pungli menjadi hal utama yang harus diselesaikan dengan baik. Kemudian setelah melakukan mediasi, Bima akhirnya memutuskan membatalkan pemberhentian Reza dan dapat langsung kembali mengajar. Sementara, Nopi dicopot dari jabatannya dari Kepala SDN Cibeureum 1. 

"Tindakan itu dilakukan dengan cepat, agar para siswanya tidak terganggu dalam pembelajaran. Kepala sekolah diberhentikan, dipindah dan dikenakan sanksi. Karena ada bukti-bukti tindakan gratifikasi di PPDB kemarin. Kepala sekolah sendiri sudah di-BAP oleh Inspektorat dan terbukti telah melakukan gratifikasi. Jadi diberikan sanksi untuk bergeser, diberhentikan sebagai kepala sekolah dan nanti akan ditetapkan sanksinya seperti apa," jelas Bima.

Bima mengatakan, Nopi memiliki waktu 15 hari untuk menyampaikan keberatan. Namun jika dirinya tidak keberatan maka akan diproses sesegera mungkin. Nopi tidak diperkenankan berada di sekolah tersebut meski ia merasa keberatan.

"Saya akan tetap berdasarkan aturan kewenangan untuk memberhentikan dan menunjuk kepala sekolah yang baru. Karena kepemimpinannya tidak efektif. Kepala sekolah itu harus mengayomi. Harus betul-betul menjadikannya pengabdian, bersama-sama guru, dan fokus kepada pendidikan," terang Bima.

Menanggapi kebijakan itu, Reza menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada Pemkot Bogor melalui Disdik Kota Bogor. Reza hanya bersyukur karena dapat kembali mengajar anak didiknya.

"Alhamdulillah, saya bisa kembali kepada anak-anak. Karena saya membutuhkan anak-anak dan anak-anak membutuhkan saya untuk membangun generasi penerus bangsa yang hebat luar biasa," tuturnya sambil berkaca-kaca.

Reza mengaku, sudah bekerja sebagai guru honorer di SDN Cibeureum itu selama 4 tahun. Ia bahkan ikut berjuang mendorong sekolah menjadi sekolah penggerak angkatan ketiga di tingkat nasional dan angkatan pertama di tingkat Kota. Reza berharap kejadian yang dialaminya bisa memicu sekolah lain menegakkan kebenaran dan berani mengungkapkan fakta dengan gamblang.

Sementara itu, usai dicopot dari jabatannya Nopi menolak untuk dimintai keterangan dan konfirmasi. Ia menutup diri di dalam ruangannya.

Sementara salah satu orang tua siswa, Kusuma menerangkan aksi demontrasi dilakukan orang tua murid dan anak-anak sekolah dipicu surat keputusan pemberhentian guru pak Reza. 

"Sementara Pak Reza menurut kami, salah satu guru berprestasi di sekolah. Untuk pungli saya kurang mendalami, tetapi berdasarkan sidak Wali Kota Bogor Bima Arya ibu kepsek mengakui itu. Akan tetapi setahun lalu pernah dijual sampul buku seharga Rp35 ribu dan diwajibkan semua, hanya 10 lembar. Kami maju dan akhirnya dibatalkan," jelasnya.

"Aksi ini panggilan hati orang tua, kami tidak ada yang menggerakkan. Murni kami tergerak, saya melihat pak Reza loyalitas tinggi kepada SDN Cibeureum ini. Dia bisa dekat dengan para siswa, bisa membuat anak pendiam jadi berprestasi," pungkas Kusuma.*** (rizki mauludi)


Editor : Doni Ramdhani