Inspiratif, Kelompok Tani Beranggotakan Disabilitas di Cimahi Sukses Raup Cuan dengan Cara Ini
Keterbatasan fisik atau sebagai penyandang disabilitas seolah tak menjadi penghalang untuk melakukan berbagai aktivitas tani, seperti mencangkul, merawat dan menyiram tanaman yang berada di lahan pertanian yang berlokasi di Jalan Deman Hardjakusumah, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Terik panas matahari yang membakar kulit seakan tak menjadi beban bagi sejumlah penyandang disabilitas yang berprofesi sebagai petani asal Kota Cimahi.
Keterbatasan fisik atau sebagai penyandang disabilitas seolah tak menjadi penghalang untuk melakukan berbagai aktivitas tani, seperti mencangkul, merawat dan menyiram tanaman yang berada di lahan pertanian yang berlokasi di Jalan Deman Hardjakusumah, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.
Para petani disabilitas ini masing-masing memiliki keterbatasan, seperti tunarungu, tunagrahita dan tunadaksa. Namun, hal itu tak membuat kesulitan untuk bekerja.
Seraya bekerja, sesekali mereka warnai dengan canda tawa sekadar untuk mencairkan suasana saat rasa lelah mulai menghinggapi.
Keringat pun nampak bercucuran dari balik kerudung petani disabilitas perempuan, begitupun dibalik topi yang dipakai petani laki-lakinya. Namun, mereka tak pantang menyerah untuk menyelesaikan pekerjaan sesuia waktu yang telah ditentukan.
Tergabung dalam Kelompok Tani Tumbuh Mandiri, mereka kini tengah fokus menggarap tanaman cabai, setelah sebelumnya mereka berhasil memanen tanaman lain, seperti jagung, kacang dan mentimun.
“Kami sekarang lagi bercocok tanam, menanam cabai bersama teman-teman penyandang disabilitas yang lain,” ujar Ketua Kelompok Tani Tumbuh Mandiri, Permana Dwi Cahya (31).
Ia menuturkan, pertama kali penyandang disabilitas itu terjun ke dunia pertanian setelah ada seorang profesor yang sangat peduli dan memperhatikan keterbatasan yang dimiliki kaum difabel.
“Jadi, kami ini diajak bertani karena beliau sangat yakin kami mampu. Nah dari situ penyandang disabilitas tergerak semua dan alhamdulillah sampai sekarang bisa jalan,” ujarnya yang penyandang disabilitas pria daksa ini.
Ia menyebut, hingga saat ini sudah ada 26 penyandang disabilitas yang telah bergabung dalam Kelompok Tani Tumbuh Mandiri tersebut.
Menariknya, semua anggotanya belajar tani secara autodidak dan dengan hanya modal tani seadanya dari hasil swadaya semua anggota.
"Kalau modal swadaya anggota karena mereka ada yang bekerja di luar sana. Jadi kalau ada rezeki kita sisihkan untuk kas," ucapnya.
"Alhamdulillah kita sudah pernah panen timun, kacang, dan jagung," sambungnya.
Kendati lahan tersebut bukan milik mereka. Namun, di lahan seluas 5.000 meter tersebut soliditas mereka bisa terbentuk dalam menggarap lahan pertanian tersebut.
"Lahannya milik profesor, dan dalam mengelola lahan tersebut kami sudah memiliki tugas masing-masing sesuai dengan kemampuan para anggota," imbuhnya.
Ia menerangkan, untuk penyandang disabilitas tunagrahita memiliki tugas yang tidak terlalu berat, yaitu hanya membersihkan gulma, lahan dan merawat tanaman.
"Kalau untuk anggota lainnya, semua terlibat dalam berbagai pekerjaan hingga memanen," terangnya.
Kendati demikian, ia tak memungkiri sempat terkendala berkomunikasi dengan penyandang tunarungu lantaran mereka yang memiliki cara khusus untuk berkomunikasi yakni dengan bahasa isyarat.
"Seiring dengan berjalannya waktu, semua bisa diatasi dan kini komunikasi itu bisa berjalan dengan baik," ucapnya.
Menurutnya, dengan adanya komunikasi yang baik antar sesama penyandang disabilitas tersebut, semua proses bertani pun akhirnyan bisa berjalan selama tiga tahun dan telah membuahkan hasil.
Terlebih, dirinya pun memiliki peran penting dalam kelompok tani tersebut. Selain sebagai ketua, dirinya pun merangkap di bagian pemasaran dan memasarkan produk pertanian.
"Jadi saya sudah punya target jelas untuk menjual hasil panen. Kadang ke pasar, tapi lebih bagus ke end user karena ke pasar kan ada tengkulaknya," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti

