Kisah Pilu Dibalik Keracunan Massal di Gununghalu, Pria Paruh Baya Urus Lima Anggota Keluarganya Sekaligus 

Musibah keracunan massal di Gununghalu yang terjadi di Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu 11 Februari 2023 menyisakan berbagai kisah pilu dibaliknya.

Kisah Pilu Dibalik Keracunan Massal di Gununghalu, Pria Paruh Baya Urus Lima Anggota Keluarganya Sekaligus 
Salah satunya seperti yang diungkapkan Bubun (50) salah seorang keluarga korban keracunan massal di Gununghalu usai menyantap nasi kotak peringatan Isra Miraj di Masjid As Saniyah. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Musibah keracunan massal di Gununghalu yang terjadi di Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu 11 Februari 2023 menyisakan berbagai kisah pilu dibaliknya.

Salah satunya seperti yang diungkapkan Bubun (50) salah seorang keluarga korban keracunan massal di Gununghalu usai menyantap nasi kotak peringatan Isra Miraj di Masjid As Saniyah.

Dalam musibah keracunan massal di Gununghalu tersebut, lima orang anggota keluarganya juga turut menjadi korban dan terpaksa harus menjalani perawatan secara intensif di RSUD Cililin. Bahkan, dirinya harus mengurus kelima anggota keluarganya secara bersamaan.

Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku, sempat panik saat sang istri bersama ketiga anak dan satu orang cucunya harus menjalani perawatan intensif di RSUD Cililin akibat keracunan nasi kotak.

“Mereka awalnya mengalami muntah-muntah dan terus buang air besar (BAB). Lalu, saya tanya ada apa dan setelah saya cek warga yang lain juga sama dan banyak yang terbaring," ungkap Bubun kepada wartawan di RSUD Cililin, Rabu 15 Februari 2023.

Selanjutnya, dirinya pun lantas mengecek kondisi anaknya yang berada di lokasi kegiatan keagamaan dan mendapati kondisi anaknya pun sama dengan korban yang lain.

Melihat hal itu, dirinya secara inisiatif membawa seluruh keluarganya ke Puskesmas DTP Gununghalu.

"Saya bingung mau minta tolong ke siapa, saya coba ke anak pertama yang di pesantren ternyata sama begitu juga di pesantren," ucapnya.

"Saya bawa anak dan istri ke rumah dulu langsung ke puskesmas,” sambungnya.

Ia menyebut, kepanikan itu semakin menjadi saat melihat para tetangganya turut mengalami hal serupa usai mengonsumsi nasi kotak dalam kegiatan Rajaban beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, ia bersyukur tidak mengalami keracunan lantaran tidak mengonsumsi nasi kotak tersebut.

"Karena panik saya coba minta tolong ke tetangga, tapi ternyata tetangga pun mengalami hal yang sama," ujarnya.

"Dalam satu rumah di keluarga saya ada enam orang, ada saya, istri, tiga anak dan satu orang cucu. Namun, yang kena lima orang anggota keluarga saya. Saya tidak kena, karena gak ikut makan," sambungnya.

Menurutnya, anggota didapat keluarganya sebelum kegiatan keagamaan tersebut berlangsung. Meski begitu, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti ada nasi kotak yang diberikan panitia kepada keluarganya.

“Nasi bungkus itu dibagikan panitia acara itu sore harinya sebelum kegiatan dimulai. Dalam nasi bungkus itu yang saya dengar dari istri saya, nasi, daging, tumis dan sayur,” tuturnya.

Lebih jauh ia menerangkan,  keluarganya mulai merasakan gangguan kesehatan pada Minggu 12 Februari 2023 pagi dengan merasakan mual, muntah-muntah dan diare. Setelah itu, dirinya segera mencari pertolongan untuk mendapatkan pertolongan medis.

“Pada Minggu malamnya mereka dirujuk ke rumah sakit Cililin. Sebelum dirujuk dirawat dulu di Puskesmas DTP Gununghalu. Istri dan anak saya satu dirawat di Puskesmas Gununghalu dan yang tiga dirawat di RSUD Cililin,” tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani