Menelisik Sekelumit Kisah SDN Cibungur Kelas Jauh, Perjuangan Demi Meraih Pendidikan di Bandung Barat
Berada di pinggiran Waduk Cirata, sebuah kampung yang dikenal dengan nama Cijuhung menjadi salah satu wilayah terpencil yang menjadi bagian dari Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Berada di pinggiran Waduk Cirata, sebuah kampung yang dikenal dengan nama Cijuhung menjadi salah satu wilayah terpencil yang menjadi bagian dari Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Tanah yang dihuni 145 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sebanyak 360 jiwa itu diketahui milik Pembangkit Listrik Negara (PLN) itu ternyata memiliki sekelumit kisah yang mengiris hati. Terlebih, bagi mereka yang datang langsung ke kampung yang mayoritas warganya bermata pencaharian petani dan nelayan itu.
Salah satunya sektor pendidikan yang kondisinya cukup memprihatinkan mulai dari sisi bangunan, fasilitas pembelajaran yang jauh dari kata menunjang hingga minimnya tenaga pengajar atau guru.
Ironisnya, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan program yang tengah digaungkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, seperti Sekolah Penggerak, Kurikulum Merdeka, digitalisasi pendidikan, siswa berprestasi dan manajemen talenta, Asesmen Nasional (AN), Guru Penggerak, Pendidikan Profesi Guru (PPG), Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMP PK), dan penguatan mata pelajaran pada perubahan iklim, kesehatan, olahraga, dan bahasa Inggris.
Kendati demikian, hal itu tidak terjadi di SDN Cibungur Kelas Jauh yang berada di Kampung Cijuhung. Tak hanya jarak yang jauh, untuk bisa menjangkau sekolah yang hanya memiliki tiga ruangan guru dan siswa harus berjalan kaki, mengendarai motor dengan medan yang berat dan berliku. Bahkan, adapula yang harus melalui jalur perairan dengan kendala gulma air atau eceng gondok.
"Kalau saya dari daerah Cipeundeuy. Kalau berangkat dari rumah ke sekolah biasanya jam 06.00 WIB atau lebih. Selama perjalanan, saya melewati beberapa perkebunan mulai dari perkebunan karet, perkebunan coklat dan perkebunan jati yang merupakan milik Perhutani," kata guru SDN Cibungur Kelas Jauh, Ivan Abdurahman saat ditemui di Kampung Cijuhung, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, KBB.
Ivan menuturkan, butuh waktu 25-35 menit untuk bisa sampai bisa ke SDN Cibungur Kelas Jauh saat musim kemarau. Sedangkan, pada musim hujan dirinya bisa menghabiskan waktu hingga satu jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer.
"Saya sudah 17 tahun mengabdi di SDN Cibungur Kelas Jauh dan mengajar jenjang SD kelas 1 dan 2," tuturnya.
Ivan menceritakan, SDN Cibungur Kelas Jauh mulai dibangun pada 2007 dengan bangunan yang dibuat dari bambu dan lokasinya pun bukan di tempat bangunan yang sekarang.
"Kalau awal-awal dulu bangunan SDN Cibungur Kelas Jauh itu di perkebunan dekat bekas bedeng karyawan perkebunan dan itu pun bangunan dari bambu," ujarnya.
Kemudian, sambung Ivan, pada tahun 2013 bangunan SDN Cibungur Kelas Jauh pindah dan dibangun dengan material bangunan permanen seperti saat ini.
"Tahun 2013 dibangun di lokasi saat ini meski hanya ada tiga kelas dengan kondisi yang layak kala itu," ucapnya.
Menurutnya, kondisi bangunan yang mulai rusak parah itu terjadi saat pandemi Covid-19 lantaran tidak terawat. Mulai dari banyaknya rayap dan banyak anak-anak yang bermain di sini (sekolah).
"Kalau saat hujan agak khawatir, takut bocor atau roboh," ungkapnya.
Sejak 2013, ungkap Ivan, belum pernah ada perbaikan meski pengajuan sering dilakukan. Hal itu terjadi lantaran status tanah Kampung Cijuhung yang notabene status tanahnya milik PLN.
"Gak bisa sembarangan karena legalitas tanahnya milik PLN. Jadi, kalau sewaktu-waktu ada pengumuman diambil alih mau tidak mau harus pergi," ungkapnya.
Kendati hanya memiliki tiga ruangan, terang Ivan, keseluruhan siswa yang berada di SDN Cibungur Kelas Jauh ada 54 siswa jenjang SD dan SMP sebanyak kurang dari 20 siswa.
"Untuk kelas, SD dari kelas 1-6 dan SMP mulai kelas 7 hingga 9 dengan jumlah guru sebanyak 3 orang. Tiga orang guru ini mengajar di semua jenjang," terangnya.
"Guru honorer 1 orang, PNS 1 orang dan alhamdulilah kemarin saya sudah berstatus guru PPPK," sambungnya.
Terkait dengan kegiatan belajar mengajar (KBM), lanjut Ivan, baik jenjang SD maupun SMP dibagi dalam dua shift, yakni pagi dan siang.
"Untuk SD masuk pukul 07.00 WIB sampai jam 12.00 WIB. Sedangkan, jenjang SMP masuk saat SD istirahat. Kalau kesorean khawatir saat jalan pulang karena jaraknya cukup jauh," ujarnya.
Dalam proses pembelajaran, lanjut Ivan, satu ruang diisi dua kelas dan satu orang guru. Misalnya, kelas 1 dan 2, kelas 3 dan 4, kelas 5 dan 6.
"Kalau untuk sekarang paling biasanya, kelas 1 kita beri dulu pengarahan dan kasih tugas sama gurunya. Baru mengajar ke kelas 2. Jadi tetap digilir di kelasnya," ujarnya.
Ivan mengakui kondisi ruang kelas dan fasilitas yang kini sudah tak layak sangat berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Alhasil, penyampaian pelajaran menjadi kurang maksimal.
"Apalagi anak-anak kalau di kelas saat kamu menerangkan pelajaran untuk kelas 1, kelas 2 nya ribut. Sebaliknya, kalau lagi ngajar kelas 2, kelas 1 nya yang ribut," paparnya.
Ivan pun berharap adanya uluran bantuan dari pemerintah mulai dari sisi bangunan, fasilitas dan kelengkapan pembelajaran hingga adanya tambahan guru.
Bahkan, ruang guru dan toilet pun merupakan hasil dari swadaya masyarakat.
"Kalau misalkan memasuki masa kelulusan kita juga kewalahan. Sejauh ini kalau dari PLN belum ada bantuan melainkan hanya menyediakan tanah saja," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : JakaPermana


