Penanganan Stunting dan Pengembangan Desa Wisata jadi Perhatian Serius Universitas Muhammadiyah Cirebon
Universitas Muhammadiyah Cirebon memberikan perhatian serius pada penanganan stunting dan pengembangan desa wisata. Kedua hal tersebut bahkan menjadi dua isu utama dalam Kegiatan Kuliah Mahasiswa (KKM) Tahun Akademik 2021/2022.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Cirebon- Cirebon'>Universitas Muhammadiyah Cirebon memberikan perhatian serius pada penanganan Stunting dan pengembangan Desa Wisata. Kedua hal tersebut bahkan menjadi dua isu utama dalam Kegiatan Kuliah Mahasiswa (KKM) Tahun Akademik 2021/2022.
Rektor Cirebon'>Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Arif Nurudin mengungkapkan, sebagai optimalisasi bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat, Cirebon'>Universitas Muhammadiyah Cirebon menjadikan dua isu krusial sebagai backbone utama KKM Tahun Akademik 2021/2022 yakni pencegahan Stunting dan pengembangan Desa Wisata.
Arif Nurudin memaparkan, pemilihan dua isu tersebut sebagai backbone utama KKM UMC bukan tanpa alasan. Pencegahan Stunting misalnya menurut Arif, merupakan isu strategis nasional yang kini tengah menjadi perhatian serius pemerintah.
Pun demikian dengan pengembangan Desa Wisata. Sektor pariwisata yang tengah digenjot pemerintah khususnya melalui pengembangan Desa Wisata adalah modal penting bagi Indonesia di masa mendatang.
"Hasilnya kami menemukan banyak catatan menarik yang dapat ditindaklanjuti ke depan. Baik itu soal Desa Wisata maupun Stunting," ungkap Arif Nurudin saat penutupan Lokakarya Puncak Kegiatan Kuliah Mahasiswa (KKM) Tahun Akademik 2021/2022 di Kampus UMC, Jalan Fatahilah, Kabupaten Cirebon, Sabtu 17 September 2022.
"Dari Catatan menarik ihwal Desa Wisata, ditemukan banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan. Baik itu wisata alam, wisata religi maupun wisata sosial budaya," paparnya.
Lebih lanjut Rektor menambahkan, mengembangkan Desa Wisata, tak hanya mengembangkan infrastruktur, tetapi yang paling berat adalah mengembangkan sumbet daya manusia (SDM).
Pekerjaan rumah itulah menurut Arif yang tentu tak bisa ditangani salah satu kelompok, namun harus melibatkan semua steakholder. "Baik itu pemerintah, pelaku industri wisata, perguruan tinggi dan juga masyarakat," katanya.
Atas hal ini, lanjutnya, UMC siap berkolaborasi dengan pihak-pihak yang ingin membangun industri pariwisata, khususnya pemerintah. Hal itu menurut merupakan semangat yang terus digelorakan UMC melalui skema KKM Kolaboratif.
Arif Nurudin menambahkan, catatan lain KKM UMC juga terkait penanganan Stunting. Sama halnya dengan pengembangan Desa Wisata, penanganan Stunting juga membutuhkan kolaborasi semua pihak.
Pasalnya menurut Arif, Stunting tidak hanya dipicu satu variabel melainkan banyak hal. "Di mana Stunting bukanlah suatu variabel yang berdiri sendiri, melainkan terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi," sebutnya.
Di antara faktor-faktor tersebut adalah kemiskinan atau ketidakmampuan masyarakat memperoleh asupan makanan bergizi. Termasuk juga, pola hidup masyarakat memiliki kontribusi yang signifikan timbulnya Stunting.
"Stunting menjadi perhatian utama kita, semua hal ini berkaitan dengan kualitas manusia Indonesia ke depan," tandasnya.
Arif menambahkan, dengan menyoroti dua persoalan di atas tersebut, pihaknya berharap KKM UMC tahun 2021/2022 benar-benar dapat memberikan hal positif. Pasalnya, KKM ini bukan hanya merupakan kalender akademik dan pemenuhan kurikulum semata, tetapi lebih dari itu.
"KKM ini merupakan wujud nyata pengabdian masyarakat UMC kepada masyarakat khususnya di Cirebon. Karenanya kami berharap hal itu dapat memberikan kemanfaatan sekaligus menjadi cikal bakal bersama seluruh steakholder untuk menyikapi, merencanakan tindaklanjut atas kegiatan KKM," terangnya.
"Tahun ini, UMC mengirimkan sekitar 1000 mahasiswanya ke desa-desa. Baik di Ciayumajakuning, WilayahJawa Barat, Sulawesi Selatan, bahkan hingga negeri jiran Malaysia," tuturnya.
Rektor mengaku sangat bersyukur karena berdssarkan monitoring evaluasi ke seluruh lokasi, menunjukan jika peserta KKM telah memberikan nilai-nilai positif bagi masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan penutupan Lokakarya KKM tersebut, Bupati Cirebon, Imron, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk, BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, Ketua LPPM Cirebon'>Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Ketua LPPM Universitas Buya Hamka Jakarta, Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), dan Ketua Univetsitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ketua LPPM Universitas Mustofo Beragama Jakarta, dan Ketua LPPM Sekolah Tinggi Farmasi (STF) Cirebon.***
Editor : Ghiok Riswoto

