Pupuk Subsidi Dicabut, Petani Holtikultura di Lembang Menjerit

Kebijakan pemerintah pusat yang mencabut pupuk subsidi membuat para petani holtikultura di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) meradang.

Pupuk Subsidi Dicabut, Petani Holtikultura di Lembang Menjerit
Para petani holtikultura di Lembang merasa keberatan jika harus membeli pupuk nonsubsidi karena pupuk subsidi dicabut. Terlebih, pemerintah pusat pun kini telah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Kebijakan pemerintah pusat yang mencabut pupuk subsidi membuat para petani holtikultura di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) meradang.

Pasalnya, para petani holtikultura di Lembang merasa keberatan jika harus membeli pupuk nonsubsidi karena pupuk subsidi dicabut. Terlebih, pemerintah pusat pun kini telah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Salah satu petani holtikultura di Lembang Usep Saefudin (41) mengaku, dirinya sangat menyayangkan penghapusan pupuk subsidi tersebut. Sebab, yang diinginkan petani adalah pupuk dengan harga murah dan ketersedian selalu ada.

"Kami membutuhkan pupuk subsidi, khususnya jenis SP-36, untuk pemerintah dan DPR tolong salurkan kembali pupuk subsidi, kasian banyak petani kecil yang membutuhkan," katanya kepada wartawan di Desa Suntenjaya, Jumat 16 September 2022.

Menurutnya, penghapusan pupuk subsidi ditambah dengan kenaikan harga BBM berpotensi memengaruhi ongkos atau biaya produksi pertanian. Sebab, harga-harga kebutuhan pertanian dipastikan ikut melonjak.

"Obat pestisida mahal, pupuk subsidi dicabut, apalagi BBM naik. Kalau enggak dibuka lagi, gimana nasib petani, makanya kami memohon kepada pemerintah kembali menyalurkan pupuk subsidi seperti ZA dan SP-36 yang sangat dibutuhkan petani," tuturnya.

Ia menyebut, semenjak penjualan pupuk subsidi dicabut, biaya perawatan pertaniannya melonjak hingga tiga kali lipat. Namun, disaat pengeluaran ongkos perawatan tinggi, harga-harga hasil pertanian malah anjlok.

"Tomat misalnya, sempat menembus hingga diatas Rp10 ribu perkilogram, kini harganya mengalami penurunan hingga ke level terendah. Bukan hanya tomat, harga burkoli juga hanya laku dijual Rp2 ribu perkilogram dan kembang kol Rp2 ribu perkilogram," sebutnya.

"Saat ini harga jual sayuran di tingkat petani terjun bebas, bahkan ada yang tidak laku dijual sehingga dibiarkan membusuk di kebun seperti sawi. Paling parah itu tomat, anjlok sekali," sambungnya.

Ia menuturkan, rendahnya harga jual aneka sayuran itu sangat memukul petani karena harus bertahan hidup disaat kondisi yang sulit. Apalagi harga pupuk non subsidi, pestisida dan fungsida juga mengalami kenaikan dampak harga BBM.

"Makanya kami memohon pupuk subsidi tolong dikembalikan lagi, petani sangat membutuhkan," tandasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menghapus penjualan pupuk subsidi bagi petani sejak Juli 2022. 

Adapun jenis pupuk subsidi yang dicabut tersebut dan kini dikenakan harga nonsubsidi diantaranya ZA, SP-36, dan organik granula.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani