Banyak Perkawinan Dibawah Umur, Rerata Ajuan Dispensasi Kawin ke PA Garut Capai 500 Lebih Per Tahun

Hingga saat ini, perkawinan di bawah usia 19 tahun di Kabupaten Garut masih banyak terjadi. Rerata usia perkawinan pertama (UKP) perempuan di Garut bahkan masih di bawah usia 18 tahun.

Banyak Perkawinan Dibawah Umur, Rerata Ajuan Dispensasi Kawin ke PA Garut Capai 500 Lebih Per Tahun
Hingga saat ini, perkawinan di bawah usia 19 tahun di Kabupaten Garut masih banyak terjadi. Rerata usia perkawinan pertama (UKP) perempuan di Garut bahkan masih di bawah usia 18 tahun./istimewa

INILAHKORAN, garut- Hingga saat ini, perkawinan di bawah usia 19 tahun di Kabupaten Garut masih banyak terjadi. Rerata usia perkawinan pertama (UKP) perempuan di Garut bahkan masih di bawah usia 18 tahun.


Padahal Pemerintah telah membatasi usia perkawinan laki-laki mapun perempuan itu minimal 19 tahun, sebagaimana ditetapkan dalam Undang Undang (UU) Nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.


Indikasi banyaknya perkawinan di bawah usia ditetapkan Pemerintah itu setidaknya terlihat dari banyaknya permohonan dispensasi Nikah atau Dispensasi Kawin ke Pengadilan Agama (PA) Garut Kelas 1A setiap tahunnya.


Juga keterangan Kantor Kementerian Agama Garut mengenai banyaknya penyelenggaraan perkawinan di bawah usia 19 tahun di bawah tangan.

Perkawinannya baru dicatatkan resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) ketika usia pengantin sudah mencapai 19 tahun agar bisa mendapatkan surat nikah atau melalui pengajuan itsbat di PA.


Humas PA Garut Kelas 1A Kamaludin mengatakan, selama 2022, jumlah pengajuan Dispensasi Nikah masuk dan ditangani PA Garut mencapai sebanyak
518 perkara. Jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah Dispensasi Nikah pada tahun sebelumnya yang mencapai sebanyak 530 perkara.


"Dari 518 pengajuan Dispensasi Nikah di 2022 itu, yang dikabulkan 501 perkara. Sisanya tak dikabulkan dengan berbagai alasan karena tak memenuhi syarat. Ada juga yang mengurungkan niatnya (nikah di bawah usia 19 tahun), setelah diberikan pengertian, dan mereka mau menunda perkawinannya hingga mencapai usia minimal 19 tahun," ujar Kamaludin, Senin (6/3/2023).


Dia menyebutkan, rerata calon pengantin isteri yang mengajukan Dispensasi Nikah itu berusia 17 tahun.


Pada sidang pengajuan Dispensasi Nikah, wajib dihadirkan anak yang dimintakan permohonan Dispensasi Nikah, calon suami/isteri, dan orang tua/wali calon suami/isteri.


Menurut Kamaludin, ada berbagai alasan muncul pengajuan Dispensasi Nikah ke PA. Antara lain kedua calon suami/isteri sudah lama berhubungan, dan orang tua merasa khawatir dengan keadaan anaknya yang dinilainya sudah mencapai usia baligh.


"Di sebagian masyarakat juga masih ada semacam budaya, jika anaknya, khususnya perempuan, sudah remaja atau usia baligh, lebih memilih dinikahkan. Apalagi hal itu juga biasanya berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi mereka sendiri," katanya.


Kamaludin tak menampik ada beberapa perkara permohonan Dispensasi Nikah karena faktor "kecelakaan" pergaulan kelewat batas. Namun jumlahnya sedikit.
Akan tetapi, lanjut Kamaludin, meskipun pasangan hendak dinikahkan masih di bawah usia 19 tahun, dengan adanya pengajuan Dispensasi Nikah ke PA maka hal itu sudah merupakan indikasi adanya kesadaran hukum di kalangan masyarakat.

Hal itu lebih baik dibandingkan dengan mereka yang nekat menyelenggarakan perkawinan di bawah usia 19 tahun dengan cara di bawah tangan atau nikah siri.


Ditambahkan, perkara itsbat ditangani PA Garut selama 2022 juga cukup banyak, mencapai 600 perkara. Ditengarai sebagian dari pengajuan Itsbat Nikah tersebut bertalian dengan perkawinan di bawah usia 19 tahun.


Itsbat Nikah yaitu permohonan pengesahan nikah seorang lelaki dan perempuan yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan pernikahannya sah dan memiliki kekuatan hukum.(zainulmukhtar)***


Editor : JakaPermana