Guru Honorer di Kabupaten Cirebon yang Tidak Lulus Passing Grade Ngadu ke Komisi IV DPRD

Sejumlah guru honorer di Kabupaten Cirebon yang tidak lolos passing grade (PG) pada seleksi PPPK tahap pertama mengadukan nasib mereka ke Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon. 

Guru Honorer di Kabupaten Cirebon yang Tidak Lulus Passing Grade Ngadu ke Komisi IV DPRD
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Nana Kencanawati mengatakan, guru honorer di Kabupaten Cirebon juga datang untuk mempertanyakan nasib mereka kedepan. Pasalnya, Pemkab Cirebon mengeluarkan kebijakan afirmasi dalam seleksi PPPK pada 2022 ini. (maman suharman)

INILAHKORAN, Cirebon - Sejumlah guru honorer di Kabupaten Cirebon yang tidak lolos passing grade (PG) pada seleksi PPPK tahap pertama mengadukan nasib mereka ke Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon. 

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon Nana Kencanawati mengatakan, guru honorer di Kabupaten Cirebon juga datang untuk mempertanyakan nasib mereka kedepan. Pasalnya, Pemkab Cirebon mengeluarkan kebijakan afirmasi dalam seleksi PPPK pada 2022 ini.

"Mereka mempertanyakan nasib guru honorer di Kabupaten Cirebon, akan seperti apa ke depannya," ujar Nana Kencanawati usai menerima para guru honorer di Kabupaten Cirebon tersebut di ruang Komisi IV, Kamis 10 November 2022.

Ia menyampaikan, seleksi PPPK tahap I dan II sudah selesai. Saat ini seleksi sudah memasuki tahap ke III lewat jalur afirmasi. Yakni, kebijakan penambahan nilai kompetensi teknis yang bisa digunakan untuk mempermudah guru honorer lulus seleksi PPPK. Artinya, berapa pun nilainya, kalau sudah memenuhi kriteria, maka akan diluluskan.

Hanya saja, kata Nana, bagi mereka yang non PG, ketika dari segi kriteria tidak masuk akan seperti apa. Padahal, pada saat tes dalam seleksi dulu, nilai mereka lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berusia lebih dari 35 tahun. Yakni mereka yang mendapat prioritas lewat jalur afirmasi.

“Kalau dilihatnya dari usia, mereka ini tersisihkan. Karena belum berusia 35 tahun. Dulu mereka tidak lulus PG karena diawal kan masih tinggi batasannya. Kemudian batasannya diturunkan, ada afirmasi, jadi tersisih lagi. Akhirnya status mereka terseok-seok, kasihan," terang Nana.

Padahal, kata dia, secara perhitungan masa kerja banyak di antara mereka yang sudah mengajar lebih dari 8 tahun lamanya. Sementara untuk PG, walaupun mereka lebih tinggi dari yang usia lebih dari 35 tahun, tapi karena mengutamakan afirmasi, mereka tersisihkan.

Kendati demikian, lanjutnya, masih ada harapan karena kuota PPPK untuk Kabupaten Cirebon dikisaran 4.000 lebih. Dari jumlah kuota tersebut, yang terisi baru di angka 3.000 lebih. Artinya, masih ada slot atau sisa kuota yang belum terisi. 

“Nah sisa ini, sebenarnya masuk kuota untuk mereka. Cuma karena mereka tidak masuk afirmasi maupun passing grade, akhirnya tersisihkan,” jelasnya.

Untuk mengambil sisa yang ada, tentu dibutuhkan regulasi. Dimana, aturannya masih harus diformulasikan dengan observasi. “Artinya masih ada harapan. Mereka tidak usah tes seperti dulu lagi,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Pendidikan, Moch Ruhyat Zain menjelaskan, formasi dalam seleksi PPPK ditahun 2022 ini hanya untuk mereka yang dinyatakan lolos PG. Alasannya, karena kelulusan ditahap 1 dan 2 di Kabupaten Cirebon masih tersisa 177 formasi lagi. Sedangkan di tahun 2022 ini formasinya sebanyak 152.

Pada saat rapat kordinasi dengan Kementrian Juli lalu, kata Ruhyat Zain, pihaknya diberikan pilihan. Mengingat formasinya masih banyak namun angka kelulusannya baru 971.

 "Di kita ini unik, secara umum memang kurang. Tapi secara khusus, ada berlebih. Khususnya di SMP, ada 4 mapel yang berlebih. Bahasa Inggris, IPS, IPA dan Matematika. Untuk IPS, kebutuhan se Kab Cirebon misalnya cuma 29, tapi kelulusannya mencapai 155. Nah ini kan berlebih. Begitupun dengan 3 mapel lainnya,” tukasnya.*** (maman suharman)


Editor : Doni Ramdhani