Kemendikbudristek: Program MBKM Melihat Kegigihan Mahasiswa

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Prof Nizam mengatakan program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka (MBKM) tidak melihat kampus negeri atau swasta melainkan kegigihan mahasiswa.

Kemendikbudristek: Program MBKM Melihat Kegigihan Mahasiswa
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Prof Nizam. (antara)

INILAH, Bandung - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Prof Nizam mengatakan program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka (MBKM) tidak melihat kampus negeri atau swasta melainkan kegigihan mahasiswa.

“Minggu lalu Presiden Jokowi telah meluncurkan program MBKM untuk semester depan dengan menyediakan lebih dari 80.000 kuota bagi mahasiswa untuk mengikuti berbagai program yang disediakan pemerintah,” ujarnya dalam taklimat media secara daring yang dipantau di Jakarta, Senin.

Berbagai program tersebut, di antaranya magang bersertifikat, pertukaran mahasiswa, Kampus Mengajar, dan magang dengan industri. Mahasiswa yang ingin mendaftar harus mendapatkan rekomendasi dari kampusnya.

Baca Juga : 175 Mahasiswa Terpilih Jalani Program Genbi Bank Indonesia

“MBKM yang bersifat kompetitif, kita tidak melihat kualitas perguruan tingginya. Melainkan kerja keras mahasiswa untuk bisa mengikuti program MBKM. Jadi kuncinya pada kegigihan setiap mahasiswa, dan bukan pada besar atau kecilnya perguruan tinggi,” kata dia.

Dia mengakui banyak mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi negeri, hal itu karena sebagian besar kampus negeri memiliki jumlah mahasiswa yang banyak.

“Kuncinya terletak pada masing-masing mahasiswa. Mereka yang gigih dan yang bekerja keras yang akan bisa lolos dalam. program ini. Mahasiswa mendapatkan kesempatan yang sama,” kata dia.

Baca Juga : Bamsoet Dorong Permahi Kaji Pentingnya Haluan Negara

Pihaknya berupaya mengakselerasi perkuliahan tatap muka. Pembelajaran daring tidak sepenuhnya menggantikan pembelajaran tatap muka di perguruan tinggi.

Halaman :


Editor : suroprapanca