Agri-Food Indonesia Hadapi Risiko Pemulihan Selama Covid-19

Sektor pangan berbasis pertanian atau kerap disebut agri-food merupakan pilar utama perekonomian nasional di Indonesia.

Agri-Food Indonesia Hadapi Risiko Pemulihan Selama Covid-19
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Jakarta - Sektor pangan berbasis pertanian atau kerap disebut agri-food merupakan pilar utama perekonomian nasional di Indonesia, yang menyumbang lebih dari sepertiga total PDB negara pada tahun 2019.

Namun laporan terbaru dari Oxford Economics mengungkapkan bahwa meskipun sektor ini dapat menjadi penggerak utama pemulihan ekonomi pasca Covid-19, di saat yang sama sektor tersebut pun paling rentan terhadap gangguan-gangguan di kawasan Asia Tenggara.

Gangguan meliputi risiko penawaran dan permintaan, risiko kebijakan fiskal, serta pandemi yang tak kunjung usai.

Baca Juga : BI: Uang Beredar April 2021 Capai Rp6,957,3 Triliun

Dalam keterangan pers pada Kamis, laporan The Economic Impact of Agri-Food Sector in South East Asia mengenai tantangan dan dampak ekonomi dari sektor agri-food pada tahun 2020, yang diinisiasikan oleh Food Industry Asia (FIA) menyebutkan bahwa pada tahun 2019, sektor agri-food di Indonesia memberikan kontribusi PDB sebesar 374 miliar dolar AS, yang didorong oleh luasnya lanskap pertanian yang berkontribusi cukup besar terhadap pendapatan nasional dan lapangan pekerjaan.

Sektor itu juga mewujudkan separuh dari keseluruhan tenaga kerja dengan 63,4 juta lapangan pekerjaan, menjadikannya penghasil lapangan pekerjaan terpenting dalam perekonomian negara. Sektor tersebut juga telah menyumbang total pendapatan pajak sebesar 42,7 miliar dolar AS.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa sektor agri-food tetap kokoh selama pandemi Covid-19, dengan pertumbuhan 2 persen pada tahun 2020, atau peningkatan terhadap kontribusi PDB sebesar 8,2 miliar dolar AS. Namun, sektor ini diperkirakan akan menghadapi beberapa tantangan selama masa pemulihan ekonomi.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ingatkan Belanja PEN Harus Cepat Direalisasikan

Matriks dari laporan Economic Recovery menempatkan Indonesia dengan risiko pemulihan tertinggi di kawasan Asia Tenggara, melihat bagaimana negara tersebut sangat bergantung kepada sektor pariwisata untuk memulihkan kembali industri pangan.

Halaman :


Editor : suroprapanca