Hadapi Polusi Udara, Kemenkes dan Dinkes Kota Bogor Ajak Masyarakat Tingkatkan Kualitas Kesehatan
Soal polusi udara, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengingatkan agar masyarakat tingkatkan kualitas kesehatannya, terutama daya tahan tubuh agar tidak terpapar penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, bogor - Soal polusi udara, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengingatkan agar masyarakat tingkatkan kualitas kesehatannya, terutama daya tahan tubuh agar tidak terpapar penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara.
Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Anas Ma’ruf mengatakan, masyarakat perlu meningkatkan kualitas kesehatannya, terutama daya tahan tubuh agar tidak terpapar penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara untuk khususnya wilayah Jabodetabek.
"Mulai dicek, air yang kita konsumsi di sekitar kita, itu sehat atau tidak. Lalu, pangannya juga diatur, lingkungan tempatnya tinggalnya diupayakan tetap sehat, sehingga pada akhirnya menimbulkan gangguan kesehatan," ungkap Anas di Cipagiri, Kecamatan Bogor Utara pada Rabu (6/9/2023).
Anas memaparkan, pihaknya telah melakukan transformasi dalam rangka menata pembangunan kesehatan seperti meningkatkan pelayanan kesehatan, serta meningkatkan gizi ibu dan anak. Kemudian mengendalikan penyakit menular dan tidak menular, serta meningkatkan gerakan masyarakat hidup sehat. Transformasi ini memerlukan deteksi dini, melakukan pencegahan sejak awal, sehingga ketika sudah di rumah sakit, baik itu penyakit yang sifatnya kronis atau tidak bisa disembuhkan.
"Nah, puskesmas kami jadikan tempat untuk deteksi dini. Untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya perlu melibatkan berbagai sektor seperti arahan bapak Presiden Joko Widodo, karena tidak bisa hanya dilakukan Kemenkes. Sebab, Kemenkes hanya memberikan rekomendasi pencegahan dan transformasi pelayanan kesehatan," jelasnya.
Sementara itu,Kepala Dinkes Kota Bogor, dr Sri Nowo Retno mengatakan, ratusan warga kota Bogor terkena ISPA akibat polusi udara yang tercemar di Kota Bogor. Kasus ISPA di Kota Bogor selalu dipantau menggunakan alat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) baik ISPA pneumonia maupun non pneumonia.
"Untuk kasus ISPA, kami melakukan pemantauan ya menggunakan SKDR baik ISPA yang pneumonia maupun yang non pneumonia," terang Retno.
Retno melanjutkan, ISPA non pneumonia sendiri umumnya ialah batuk-pilek. Sementara ISPA pneumonia batuk-pilek disertai dengan gejala lain, seperti kesulitan bernapas dan peningkatan frekuensi napas.
"Saat ini data kasus ISPA non pneumonia di Kota Bogor tak jarang menyentuh angka 1.000 jiwa, sedangkan yang mengida ISPA pneumonia tidak lebih dari 100 jiwa. Kasus total untuk pneumonia non pneumonia diangka 800-an, kadang nanti 1.000 jiwa. Ya, kadang angkanya seperti itu, memang yang paling banyak ISPA non penemoni, kalau yang penemoni hanya diangka 80 saja," terangnya didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kota Bogor, Bai Kusnadi.
Retno memaparkan, angka tersebut masih relatif stabil. Sebab Dinkes memantau sejak Januari hingga saat ini, angka pengidap ISPA pneumonia maupun non pneumonia di Kota Bogor tidak alami kenaikan yang cukup signifikan.
"Sampai saat ini kota Bogor dari pantauan sejak Januari sebenarnya belum ada kenaikan kasus yang signifikan itu belum ada masih relatif stabil. Di minggu-minggu terakhir juga belum ada kenaikan yang signifikan khususnya untuk Kota Bogor," paparnya.
Retno menegaskan, balita lebih beresiko terkena ISPA pneumonia maupun non pneumonia, sebab dari angka yang disebutkan dinas kesehatan didominasi oleh balita.
"Usia balita angkanya agak tinggi ya, dibandingkan yang lain, risiko rentan," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana

