SMPN 18 Kota Bandung Hadirkan Sekolah Bebas Sampah Lewat Cara Sederhana
SMPN 18 Kota Bandung menerapkan prilaku baik kepada seluruh warganya mulai dari siswa dan siswi, guru serta komponen lainnya untuk memilah dan mengurangi sampah hingga mengelolanya melalui inovasi program bernama Mistar alias Misting dan Tumbler.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung,- SMP Negeri 18 Bandung membiasakan siswa-siswi, guru, dan petugas untuk kompak mengelola sampah secara mandiri. Pembiasaan tersebut ternyata mampu menjadikan SMPN 18 Kota Bandung menjadi sekolah bebas sampah lewat cara sederhana.
Pembiasaan mengelola secara mandiri di SMPN 18 Kota Bandung diperkuat melalui inovasi program bernama Mistar, yang merupakan singkatan dari "Misting dan Tumbler".
Lewat Program Mistar tersebut, seluruh warga SMPN 18 Kota Bandung memupuk kebiasaan membawa tempat makan dan minum ke sekolah. Selain itu, SMPN 18 Kota Bandung juga mempunyai Duta Adiwiyata, yang juga punya produk kreatif dari pengolahan sampah.
Kepala SMPN 18 Bandung, Rika Yustikasari menyebut, penerapan kebiasaan baik dalam pengelolaan sampah diawali dengan hal paling sederhana. Mulai dari membawa tempat makan dan minum, serta membiasakan siswa-siswi membuang sampah ke tempatnya sesuai jenis sampah tersebut.
"Kebiasaan sederhana ini kami lakukan setiap hari. Tentu tujuannya agar siswa-siswi menjadi terlatih memilah sampah," ujar Rika.
Sampah yang dihasilkan SMPN 18 Bandung dibagi menjadi tiga kategori: organik, anorganik, dan residu. Tidak berhenti di sini, mereka memperlakukan 3 jenis sampah ini sebagai upaya mewujudkan sekolah bebas sampah.
Mereka Mengolah sampah organik dengan pola kompos. Lalu, sampah non-organik pun mereka coba olah sendiri, salah satunya dengan membuat ecobricks. Salah satu hasil kreasi ecobricks mereka adalah bangku dari sampah botol, kertas, dan plastik.
Perlu sebanyak 16 sampah botol plastik untuk menghasilkan satu bangku dari bahan ini. Rika menuturkan, jumlah botol tersebut dihasilkan dari setiap kelas yang ada di SMPN 18 Bandung.
"Ada 16 kelas di sini, jadi dalam seminggu, anak-anak kami tugaskan untuk mengumpulkan sampah botol plastik dan sampah yang tidak bisa didaur ulang untuk diisi ke dalam botol plastik. Hasilnya ya satu ecobricks ini,” bebernya.
Setelah material ecobricks terkumpul, selanjutnya anak-anak dengan didampingi guru menyelesaikannya dengan menambahkan busa/jok serta cover atau penutup busa.
Sementara itu, Pengajar Bimbingan Konseling yang juga Ketua Tim Adhiwiyata SMPN 18 Bandung, Siti Hafsoh menyebut, peran guru dan sekolah adalah sebagai pengingat bagi siswa-siswi untuk menerapkan kebiasaan baik ini.
Harapannya, siswa-siswi SMPN 18 Bandung jadi terbiasa, dan dapat membawa kebiasaan ini hingga mereka lulus dan berbaur di lingkungan saat usianya dewasa kelak.
Menurutnya, proses membiasakan anak-anak dalam memperlakukan sampah tentu memiliki tantangan luar biasa. Namun ia optimis, jika terus diingatkan, lama-lama siswa-siswi akan terbiasa. "Fungsi kami adalah sebagai pengingat. Tujuannya kebiasaan baik ini terus diingat dan diimplementasikan oleh anak-anak, sampai mereka dewasa kelak," ujarnya.
Bagi SMPN 18 Bandung, upaya mewujudkan sekolah nol sampah ini bukan untuk mencuri perhatian pihak lain, tetapi bersama-sama menjaga lingkungan yang mereka miliki.
Meski begitu, pihak sekolah menyatakan sangat terbuka jika ada Wargi Bandung yang berminat sama-sama belajar mengelola sampah ala SMPN 18. “Tentu kami sangat terbuka, mari sama-sama berbagi informasi yang positif seperti ini,” pungkas Hafsoh.***
Editor : Ghiok Riswoto

