Triwulan II 2022, Ekonomi Jabar Tumbuh 5,68%
Pada triwulan II 2022 ini, ekonomi Jabar tumbuh sebesar 5,68% (yoy). Angka tersebut meningkat tipis dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,61%.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pada triwulan II 2022 ini, ekonomi Jabar tumbuh sebesar 5,68% (yoy). Angka tersebut meningkat tipis dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,61%.
Kepala Bank Indonesia (BI) Jabar Herawanto mengatakan, kendati pertumbuhan pada triwulan II 2022 ini relatif terbatas namun ekonomi Jabar mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,44% (yoy).
“Hal itu sejalan dengan perkiraan BI sebelumnya bahwa peningkatan mobilitas masyarakat berdampak positif pada permintaan domestik. Selain adanya momentum Ramadan dan Idulfitri 2022,” kata Herawanto, akhir pekan lalu.
Dia menuturkan, perbaikan ekonomi Jabar pada triwulan II 2022 terlihat baik di sisi pengeluaran maupun sektoral. Dari sisi pengeluaran, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari ekspor tetap tumbuh positif dan konsumsi rumah tangga yang meningkat tinggi.
Ekspor tercatat tumbuh sebesar 13,44% (yoy), meskipun tidak setinggi triwulan I 2022 seiring dengan termoderasinya permintaan global akibat eskalasi tensi geopolitik Rusia-Ukraina dan potensi risiko global yang mulai termaterialisasi. Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,89% (yoy), dari sebelumnya hanya tumbuh 2,52% (yoy).
Selain itu, pelonggaran aturan perjalanan pada triwulan II 2022 juga memberikan dampak positif pada kinerja sektor pariwisata, searah dengan tingginya minat masyarakat untuk bepergian kembali maupun peningkatan penggunaan akomodasi hotel untuk kegiatan kedinasan pemerintah, instansi, BUMN dan korporasi besar lainnya.
“Hal ini tercermin dari occupancy rate perhotelan yang membaik hingga rata-rata mencapai 45%. Kondisi ini mendorong kinerja LU penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh sebesar 8,94% (yoy),” ujarnya.
Herawanto menegaskan, sepanjang 2022 ini pertumbuhan ekonomi Jabar ecara keseluruhan diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,6-5,4%, revisi ke bawah dari proyeksi sebelumnya seiring dengan tekanan eksternal yang cukup tinggi dan potensi stagflasi yang membayangi perekonomian global.
Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi Jabar diakuinya masih cenderung optimistis. Hal ini tidak terlepas dari strategi menyeimbangkan perekonomian dengan pengendalian risiko kesehatan secara terukur yang didukung terus meningkatnya kemajuan vaksinasi, optimalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru, serta interkoneksi Jabar Utara dan Selatan yang diharapkan dapat mendorong ekonomi yang lebih inklusif.
Untuk itu, beberapa waktu lalu BI Jabar mendorong ketahanan pangan sektor maritim dan perikanan di sejumlah lokasi. Herawanto menuturkan, wilayah Priangan Timur sebagai penghasil berbagai produk hortikultura itu masih memiliki potensi yang sangat besar pada sektor perikanan, baik tangkap maupun budidaya air tawar.
“Sejauh ini, produktivitas potensi tersebut masih relatif kecil kontribusinya. Artinya, perlu untuk semakin dioptimalkan guna meraih ketahanan pangan dalam rangka menjaga dan meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi,” jelasnya.
Satu rekomendasi kebijakan yang dapat ditempuh untuk mendukung sektor perikanan dan maritim yakni dengan menjaga perbaikan kinerja ekspor Jabar khususnya pada komoditas sektor fishery.
Di bagian lain, secara spasial BPS merilis inflasi Jabar pada Juli 2022 tercatat sebesar 4,94% (yoy). Laju inflasi itu terutaman bersumber dari peningkatan harga kelompok bahan makanan (volatile food). Guna menjaga dan meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi potensi tekanan inflasi, BI Jabar bersama Pemkot dan Pemkab Sukabumi menggelar pertemuan bertajuk Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi (Pangsi) Sukabumi Project.
Insan perbankan, lembaga pendidikan, asosiasi, dan kelompok masyarakat pondok pesantren, kelompok masyarakat subsisten, kelompok tani hingga desa wisata berkomitmen untuk berkontribusi terhadap pengendalian inflasi, mendorong pengembangan sektor pertanian, perikanan, maritim, serta pariwisata dalam menjaga ketahanan pangan.*** (dnr)
Editor : Doni Ramdhani

