FSGI Temukan 22 Kasus Kekerasan Seksual dengan Korban Mencapai 202 Peserta Didik Sepanjang Januari Hingga Mei 2023

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat temuan kasus kekerasan seksual sebanyak 22 kasus dengan jumlah korban mencapai 202 peserta didik di seluruh satuan pendidikan sepanjang Januari hingga Mei 2023.

FSGI Temukan 22 Kasus Kekerasan Seksual dengan Korban Mencapai 202 Peserta Didik Sepanjang Januari Hingga Mei 2023
Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat yang meminta seluruh pihak untuk memaksimalkan implementasi peraturan pencegahan kekerasan seksual di setiap lembaga pendidikan dalam rangka melindungi dan memberi rasa aman generasi penerus bangsa. (Foto Antara)

INILAHKORAN,Jakarta,- Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat temuan kasus kekerasan seksual sebanyak 22 kasus dengan jumlah korban mencapai 202 peserta didik di seluruh Satuan Pendidikan sepanjang Januari hingga Mei 2023.

Hal itu mengundang reaksi sejumlah kalangan termasuk Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat yang meminta seluruh pihak untuk memaksimalkan implementasi peraturan pencegahan kekerasan seksual di setiap lembaga pendidikan dalam rangka melindungi dan memberi rasa aman generasi penerus bangsa.

"Tindak kekerasan seksual di lingkungan pendidikan harus segera diakhiri melalui proses yang terukur dan didukung semua pihak yang terkait," kata Lestari Moerdijat.

Menurut Lestari, hasil temuan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat terjadi 22 Kasus Kekerasan Seksual dengan korban 202 peserta didik di seluruh satuan pendidikan sepanjang Januari-Mei 2023.

Sebesar 50 persen dari kasus tersebut terjadi pada satuan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), 36,36 persen terjadi pada satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama. Sisanya, terjadi di lembaga-lembaga informal.

Menurut Lestari, untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik sangat membutuhkan keterlibatan aktif para pemangku kepentingan pada ekosistem pendidikan.

Apalagi, ujar Rerie sapaan akrab Lestari, dunia pendidikan di Tanah Air saat ini dihadapkan pada tiga persoalan besar yaitu terkait perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.

Rerie mengatakan, para guru terlatih hasil pendidikan pada program anti-perundungan berbasis sekolah (Program Roots), yang merupakan program kerja sama Kemendikbudristek dan UNICEF itu harus segera berperan aktif dan konsisten membagikan ilmunya kepada para tenaga pengajar dan peserta didik.

Apalagi, ujar Rerie, program tersebut telah menghasilkan 13.800 guru yang dilatih sebagai fasilitator dan 43.400 siswa agen perubahan dengan keterjangkauan bimbingan teknis di 7.400 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Rerie menegaskan, seluruh pihak terkait harus menempatkan upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan menjadi salah satu fokus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

"Tujuannya agar sistem pendidikan nasional yang kita terapkan mampu menghasilkan generasi yang berkualitas, berdaya saing, dan berkarakter kuat, sesuai amanat konstitusi kita," ujar Rerie.***


Editor : Ghiok Riswoto