Penolakan TPST Cikupa KBB Terus Bergulir, Iwan: Kami Hadir untuk Mediasi
Rencana pembangunan TPST Cikupa terus menuai penolakan dari berbagai pihak di KBB. Terutama dari masyarakat sekitar. DPRD KBB mengaku siap melakukan mediasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Komisi III DPRD KBB melakukan mediasi terkait rencana pembangunan TPST Cikupa di Kampung Cikupa, RT 01/RW 15, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, KBB.
Pasalnya, rencana pembangunan TPST Cikupa tersebut menuai beragam penolakan dari berbagai pihak di KBB. Terutama dari masyarakat sekitar.
Ketua Komisi III DPRD KBB Iwan Ridwan mengatakan, kehadiran legislatif di Desa Cilame tersebut guna menindaklanjuti dan memediasi terkait penolakan rencana pembangunan TPST Cikupa.
"Tentunya kami di sini menindaklanjuti ajuan tersebut dengan mendatangi lokasi, sekaligus mengundang Muspika, Pemdes dan dinas-dinas terkait. Karena secara terperinci tugas kami sebagai mediator," katanya saat ditemui di kantor Desa Cilame, Rabu 10 Agustus 2022.
Kalaupun para warga menolak, jelas dia, tentunya harus ada alasan konkret lantaran sumber anggaran rencana pembangunan TPST Cikupa ini berasal dari bank dunia dan telah menjadi proyek nasional.
Ia menjelaskan, seperti diketahui apabila proyek nasional itu tak bisa dilaksanakan. Maka, Pemda bakal terkena dampak dan sanksi.
"Oleh karenanya, kita carikan solusi terbaik. Sebab, jika menolak harus ada alasan rasional," jelasnya.
Ia menyebut, setelah dilakukan mediasi melalui musyawarah ternyata ada kekurangan pada dinas-dinas terkait lantaran minimnya sosialisasi.
"Seharusnya ketika ada satu program masyarakat itu diajak bicara dulu dan diberikan pemahaman. Jangan ujug-ujug ada program," sebutnya.
Kendati pun ada sosialisasi, kata dia, pro dan kontra pasti ada. Namun, satu hal yang penting, yakni desa dan kecamatan bisa memberikan sosialisasi lantaran masalah sampah ini merupakan tanggungjawab bersama.
"Proyek ini sangat penting, tentunya dengan menyiapkan sarana dan prasarana untuk menampung dan mengelola sampah," ujarnya.
Setelah itu, tinggal bagaimana mengolah sampahnya mau didaur ulang, dibakar atau dibuang di mana saja. Nah, ketika bank dunia turun maka akan ada bantuan atau perhatian," tutupnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani
