Soal Pelecahan Seksual Santriwati, Pengurus Ponpes di Kota Bogor Angkat Bicara

Pihak pondok pesantren (Ponpes) melalui penasehatnya angkat suara beserta beberapa saksi dalam satu kejadian dugaan pelecehan seksual terhadap santriwat tersebut.

Soal Pelecahan Seksual Santriwati, Pengurus Ponpes di Kota Bogor Angkat Bicara
Penasehat pondok pesantren Ade Hanafi

INILAHKORAN, Bogor - Kasus dugaan pelecehan seksual santriwati oleh pimpinan pondok pesantren (Ponpes) di Kota Bogor terus bergulir di Polresta Bogor Kota. 

Pihak pondok pesantren (Ponpes) melalui penasehatnya angkat suara beserta beberapa saksi dalam satu kejadian dugaan pelecehan seksual terhadap santriwat tersebut.

Penasehat pesantren yang dipimpin AM (45), Ade Hanafi menuturkan, untuk kejadian pimpinan ponpes AM (45) bahwa awalnya kejadian itu tanggal 17 Januari 2023 lalu. Saat pimpinan ponpes yang kerap dipanggil Abi berada di masjid, dekat tempat wudhu, kemudian didatangi santriwati yang melaporkan kasus pelecehan ini. 

"Abi lagi di masjid saat itu. Setiap santri kalau lihat Abi di masjid, di teras masjid atau di tempat wudhu suka mendatangi untuk memberikan salam. Karena biasanya murid-murid begitu. Nah kebetulan santri perempuan (inisial L) ini nyamperin, salaman juga di tempat wudhu. Dia salaman cium tangan, dipegang kepalanya sambil didoain oleh Abi," ungkap Ade kepada wartawan pada Kamis (24/8/2023).

Ade melanjutkan, sudah selesai bersalaman itu, L berangkat ke sekolah. Setelah di sekolah baru informasi ramai disebut-sebut itu pelecehan.

"Ya, itu disebutnya rekayasa yang terjadi di tempat wudhu yang L sampaikan. Karena ketika disamperin dan bersalaman itu tidak ada orang yang melihat. Tidak saksi satu pun, dia seenaknya ngoceh-ngoceh. CCTV hanya dipintu masjid saja, ditempat wudhu tidak ada. Itu kejadian Abi tanggal 17 Januari 2023, pukul 08.00 WIB atau ketika para santri mau berangkat sekolah," terang Ade.

Sementara itu, untuk salah satu guru yang diduga melakukan pelecehan seksual, MM (39) memaparkan, kejadian yang dituduhkan pelapor kepada dirinya adalah saat itu santri perempuan yang melaporkan dirinya tengah meminta dirinya untuk melakukan urut pita suara. Karena dirinya merupakan ahli pengobatan tradisional gurah suara dan urut suara dengan ilmu yang turun temurun. Bahkan sertifikat juga sudah dikantongi dirinya sejak tahun 2001 silam.

"Saat itu tahun 2019 santri perempuan yang melaporkan saya itu, meminta kepada saya untuk urut suara. Lalu dilakukan pengurutan suara di rumah pribadi saya yang masih dilingkungan pesantren. Saat pengurutan disaksikan satu santri laki-laki dan satu santri perempuan, juga saat itu ada almarhumah istri saya. Pengurutan dilakukan di ruang tamu," ungkap MM.

MM melanjutkan, bahwa saat pengurutan dilakukan menggunakan minyak, diurut bagian leher tanpa melepas hijab maupun pakaian. Serta disaksikan santri lain, santri laki-laki Rizki dan yang perempuan Vira.

"Setekah diurut tidak ada komplain ataupun apa-apa. Santri perempuan itu juga masih mondok seperti biasa, nah baru sekarang tahun 2023 ini jadi ada pelaporan. Datang surat kepada saya dan Abi, kaget sekali kami. Padahal kronologisnya hanya begitu saja, ada saksi lebih dari satu. Saat itu ada istri saya juga, cuman istri saya saat ini sudah almarhumah atau sudah meninggal bulan Januari 2023 sekitar 8 bulan lalu," tuturnya.

MM juga mengatakan, dengan terapi yang dilakukan dirinya merupakan bagian dari ikhtiar untuk membuat santri-santri suaranya bagus.

"Alhamdulillah, pesantren kami ini setiap event perlombaan MTQ sering masuk kategori juara tingkat Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, tingkat nasional bahkan juara internasional juga pernah. Pengurutan suara salah satu ikhtiar agar bagus suaranya. Saya tidak memaksakan santri untuk diurut suara, informasi disampaikan pihak pondok pesantren. Bahwa bagi yang mau terapi urut suara atau gurah bisa ke saya," bebernya.

"Ya, sekarang kalau memang santri tersebut tidak terima. Harusnya satu hari, satu bulan atau saat malam itu juga tahun 2019, dia melaporkan dong. Bahwa adanya pelecehan, tapi kan tadi ada saksi juga yang menyaksikan. Selain itu santri-santri lain juga sampai saat ini masih banyak yang meminta diurut suara baik laki-laki maupun perempuan," tambah MM.

Diketahui pimpinan dan pengurus ponpe berinisial AM (45) dan MM (39) telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Bogor Kota.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso mengatakan, untuk korbannya sendiri, saat ini berjumlah tiga orang.

"Untuk korban berjumlah tiga orang," singkat Kapolresta. (Rizki Mauludi)


Editor : Ahmad Sayuti