Wilayah Kerja Relatif Rawan Bencana Alam, Pokwan DPRD Kabupaten Bogor Belajar Jurnalisme Bencana
Kelompok Kerja Wartawan alias Pokwan DPRD Kabupaten Bogor menyelenggarakan Diskusi Jurnalisme Bencana. Diskusi ini dihadiri puluhan wartawan media online maupun cetak yang kerap meliput di Kabupaten Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Kelompok Kerja Wartawan alias Pokwan DPRD Kabupaten Bogor menyelenggarakan Diskusi Jurnalisme Bencana. Diskusi ini dihadiri puluhan wartawan media online maupun cetak yang kerap meliput di Kabupaten Bogor.
Narasumber yang dihadirkan dalam acara diskusi Pokwan DPRD Kabupaten Bogor kali ini yakni Redaktur Harian Kompas Ahmad Arif. Ia juga merupakan penulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, Menatap Tiang Langit, Hidup Mati di Negeri Cincin Api, dan lainnya.
Pokwan DPRD Kabupaten Bogor menilai Kabupaten Bogor merupakan kabupaten paling rawan bencana alam dan paling banyak kejadiannya se-Indonesia. Jurnalisme Bencana dibutuhkan karena daerah ini kerap diterjang bencana alam mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, petir hingga gempa bumi.
Ahmad Arif menuturkan, pentingnya seorang jurnalis memiliki pengetahuan dan pemahaman yang utuh terhadap daerah rawan bencana serta istilah-istilah yang dipakai dalam informasi kebencanaan.
Dengan pemahaman mendasar itu, jurnalis diharapkan bisa menjaga keselamatan saat liputan dan membuat produk berita dengan pendekatan sainsifik untuk mengedukasi masyarakat.
"Bagaimana kita menyampaikan informasi kepada masyarakat, jika kita sendiri tidak memahami mitigasi hingga penangganan bencana," papar Ahmad Arif kepada wartawan, Selasa 1 Agustus 2023.
Dengan bekal pengetahuan yang memadai, jurnalis kemudian harus memilih narasumber dari pakar atau mereka yang ahli di bidangnya. Penjelasan dari ahli tersebut, bisa menjadi produk pemberitaan mitigasi bencana.
"Liputan berita bencana alam bukan hanya tentang kematian, kesedihan atau lainnya tapi juga ada mitigasi bencana ahar berguna bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam, lalu dapat memahami situasi itu dan langkah apa yang harus dilakukan saat bencana tetiba datang melanda," sambung Ahmad Arif.
Akan tetapi, menurut Arif sapaan singkatnya, pemahaman masyarakat Indonesia terhadap mitigasi bencana alam ini memang masih tergolong rendah.
"Karena itu, peran jurnalis diharapkan bisa meningkatkan pemahaman tersebut dan kemudian masyarakat bisa mengurangi potensi resiko atau jatuhnya korban bencana alam," tambah Arif.
Ia juga menghimbau agar jurnalis bencana tidak "menyakiti" perasaan korban bencana alam dengan tingkah laku saat melakukan wawancara, maupun pemberitaan peristiwa bencana itu sendiri.
"Tentunya, jurnalis dituntut kecepatan dan keakuratan data saat menyampaikan informasi bencana tersebut, namun jangan juga malah menambah derita korban," harapnya.
Ia menambahkan bahwa selama ini tak jarang untuk menarik minat pembaca, jurnalis bencana malah terjebak pada narasi-narasi irasional. Seperti dibumbui hal-hal mistis dan mewawancara tetangga korban yang tak memahami persis kejadian bencana alam tersebut.
Namun, kata Arif, hal itu tidak sepenuhnya kesalahan jurnalis yang meliput di lokasi bencana. Pertanyaan tersebut, kata dia, kadang memang menjadi "titipan" redaktur media tempat si reporter bekerja.
Untuk menarik minat pembaca, pemberitaan dan juga gambar yang dramatis menjadi salah satu tugas yang diberikan redaktur kepada reporter yang meliput di lapangan.
Arif berpendapat, produk jurnalis dalam memberitakan peristiwa bencana alam maupun non alam mestinya membangun optimisme. Semangat korban untuk bangkit
"Namun, seperti barang dagangan yang cepat laku dijual, pemberitaan peristiwa kebencanaan di Indonesia cenderung mengeksploitasi penderitaan dan hal itu membuat pemberitaan kebencanaan di Indonesia beberapa kali disindir oleh media asing karena terlalu mengeksploitasi penderitaan," tambahnya.
Tak kalah penting dan sering terlewatkan adalah pemberitaan pasca bencana. Belajar dari beberapa kasus bencana alam yang terjadi di Indonesia, Arif menilai, kita sebagai masyarakat merupakan insan yang cepat lupa.
Demikian juga pemberitaan media yang kadang hanya menyorot saat peristiwa terjadi. Bagaimana kemudian upaya pemulihan dilakukan dianggap tidak menarik lagi.
"Karena itu, rekonstruksi dan juga pembangunan lingkungan korban terdampak bencana, sering kali tidak mengambil pesan dari bencana yang datang sebelumnya. Jadi mari sebagai jurnalis, kita mengambil bagian untuk mengedukasi masyarakat. Untuk hal itu kita memang harus belajar dan terus belajar," tandas Arif.*** (reza zurifwan)
Editor : Doni Ramdhani

